Sedikit Catatan

Sabtu, 05 April 2008 pagi
Di atas batu, di pinggir pantai Laguna Helau

Kutulis ini dari tempat yang kukhayalkan sebelumnya. Di atas batu yang setiap hari dihantam ombak yang akhirnya menyisakan buih, kemudian hilang.
Sebelum tiba, di tempat di mana aku menuliskan ini, kususuri pantai dan kutapakkan kakiku pada pasir basah. Ada jejakku di situ, juga orang-orang yang memasrah pada angin. tapi segera terhapus setelah aku membuat tapak baru. Air laut hendak menggapai kakiku, tapi tak kubiarkan. Malah aku berlari kemudian kembali lagi setelah ia pergi.
Ah, gelombang, seberapa besar keinginanmu untuk mengikis batu-batu. Hingga engkau kembali lagi dalam interval angin. Air laut sungguh bening kehijau-hijauan. Engkaulah yang membawa remah karang ke permukaan, dan akhirnya menuju pantai. Kusaksikan kayu-mengayu di tepian bersama batu apung, rumah siput yang pecah dan kepiting berlarian menuju lautan.
Ibu, seandainya engkau enyambutku di depan pintu, tentu akan aku ceritakan sebuah hikayat tentang laut dan sebuah potret di atas batu. Seperti engkau yang mendongeng tentang kancil dan buaya di mana kau selalu memanggilku untuk tidur setiap pukul 8 malam. Maka aku membawakanmu pula cerita dari lautan pada jam 8 pagi.

Kini aku berpindah ke batu yang lain. Kutemukan sesuatu yang pernah aku khayalkan. Tentang kepiting yang merayap di batu dan serakan bambu-bambu. Mungkin juga batu yang membentuk semacam kristal.
Ah, batu itu, mungkin tak seperti itu dulunya...
Aku berpindah batu lagi. Tapi tak kutemukan apa-apa. Selain ombak yang bergelimpangan dan bertumburan.




Comments

Popular Posts