Translate

Sabtu, 15 November 2008

Workshop Bengkel Penulisan Fiksi Mikro

Oleh:
Agit Yogi Subandi



Fiksi mikro, merupakan pengembangan dari khasanah sastra yang sudah lama berkembang. Di Indonesia pun bukan hal yang pertama pula. Sudah ada penulis fiksi mikro sebelumnya seperti Sapardi Djoko Damono, Danarto dan lain-lain. tapi fiksi mikro belum berkembang seperti laiknya cerpen, puisi atau novel di Indonesia apalagi teen-lit dan chik-lit tentu tidak sepadan apabila dibandingkan jumlah penjualannya atau jumlah bukunya apatah lagi kualitasnya. Fiksi mikro pada hakekatnya yang bisa menuliskannya adalah para penulis yang telah mahir dalam bahasa. Sebab genre ini memiliki cara pengungkapan yang berbeda dari prosa pada umumnya. Sulit membedakan antara fiksi mikro dengan puisi, fiksi mikro dengan cerpen. Tapi A. S. Laksana yang menjadi narasumber pada workshop ini menarik garis besar atau memberi batasan mengenai pengertian fiksi mikro dengan metafor yang mudah dimengerti. “Novel adalah sebuah rumah yang mana kita diajak masuk dan menikmati ruangan, melihat dan merasakan peristiwa di dalamnya, dan cerpen adalah kamar yang hanya disaksikan dari sebuah jendela. sedangkan fiksi mikro atau flash fiction adalah menyaksikan sebuah ruangan sebuah rumah dari sebuah lubang kunci.” Begitulah yang beliau katakan.

Saya setuju dengan ungkapan Bung Sula (sapaan akrab dari A. S. Laksana) mengenai batasan itu. memang sulit mengambil garis tegas perbedaannya. Tetapi dalam makalah Iswadi Pratama mengenai fiksi mikro pada waktu pengumuman hasil lomba cerita mini ini mengutip David Lagmanovic yang juga dikutip oleh redatur Kompas Hasif Amini sebelumnya memberi batasan: fiksi mikro adalah narasi pendek, yang bisa terdiri dari hanya beberapa kata hingga satu atau dua paragraf, atau satu atau dua halaman, dipadatkan secara maksimal dan indah bagaikan sebuah torema. Sementara Lauro Zavala melakukan pembagian berdasarkan jumlah kata: fiksi mikro terdiri dari kurang dari 2000 kata; fiksi ringkas atau sudden fiction/short short terdiri dari 1000—2000 kata; fiksi amat ringkas atau fiksi kilat atau flash fiction terdiri dari 200—1000 kata; dan fiksi ultra ringkas terdiri dari 1—200 kata. tapi tidak semua peserta puas mendengar jawaban ini, sehingga terus-menerus pertanyaan mengenai batasan diperbincangkan. Tapi Iswadi Pratama memberikan satu lagi peryataan mengenai hal ini yang ia kutip dari Irene Zahova yang mengajukan perbandingan menarik adalah cerita yang bisa dinikmati dalam satu sesap kopi, dalam rentang waktu habisnya sekeping koin di telepon umum, dalam ruang yang tersedia pada sehelai kartu pos. cukuplah dimengerti batasan fiksi mikro bagi para peserta workshop penulisan.

Proses kreatif

Pada dasarnya mula sebuah proses kreatif adalah meniru, ucap bung Sula. Dulu, ia meniru penulis-penulis besar seperti Hemingway, Borges, Danarto serta penulis-penulis besar lainnya dengan mengetik ulang karya-karya mereka. agar tangannya terbiasa pula merasakan mengetikkan kalimat-kalimat bagus. dengan demikian ia dapat merasakan emosi si para penulis dan mengerti pola pikir penulis-penulis tersebut. tapi tidak menjiplak untuk kemudian dijadikan karya-karyanya. Hanya sebagai latihan! Tukasnya. Sebagai penulis tidak boleh menjiplak. Hanya sebagai penambah wawasan saja. Setelah itu berjalan sendiri. Karena dengan meniru kita dapat mengikuti apa yang sedang kita tuju. Semisal ketika kita masih kecil, untuk belajar berbicara, kita berusaha meniru bagaimana mengucap sebuah kata atau kalimat dari bibir ibu atau bapak kita. Contoh kedua ketika kita hendak belajar bahasa Inggris, kita juga meniru model pengucapnnya sehingga persis dengan semestinya. Pengembangan dari proses peniruan itu tadi, akan mempengaruhi kepada pola pikir, sudut pandang dan cara menulis.

Selain itu, ia juga menyarankan agar para penulis membaca karya-karya orang. sebab menulis itu sama dengan membaca. A. S Laksana mengibaratkan seorang penulis adalah seorang koki masak di sebuah restoran besar. Katanya, Bagaimana memasak kalau tidak pernah belanja? Belanja sama dengan membaca dan memasak adalah menulis dan tahap pengeditan adalah penyajiannya. Begitulah katanya.

Workshop bengkel penulisan cerpen mini yang berlangsung dari tanggal 1-2 November ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Lampung yang berkerjasama dengan Unit Kegiatan Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Adapun sebagai ketua pelaksana pada acara ini adalah Ari Pahala Hutabarat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung dan ditemani oleh seorang cerpenis Lampung yaitu, Arman A.Z. acara ini juga dihadiri oleh sejumlah sastrawan Lampung antara lain: Iswadi Pratama, Inggit Putria Marga (MC), Noorcholis (penerjemah), dan Isbedy Setiawan Z.S yang pada alam minggu mengisi materi tentang proses kreatif.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...