Translate

Sabtu, 27 September 2008

Pablo Neruda




PADA 11 September 1973, Chili dilanda kudeta militer. Jenderal Augusto Pinochet yang memimpin kudeta itu meruntuhkan harapan Ricardo Eliecer Neftali Reyes Basoalto. Ia ingin melihat Chili dibangun di atas tatanan sosialis demokrat. Namun, harapan itu bubar karena perbedaan ideologi dan peralihan kekuasaan pada dekade 70-an itu.

Ricardo Eliecer adalah nama samaran sastrawan Chili, Pablo Neruda. Ia
lahir di Parral, 12 Juli 1904, di kota yang berjarak 300-an km selatan Santiago dari pasangan Jose del Carmen Reyes Morales dan Rosa Neftali Basoalto Opazo.

Neruda tercatat sebagai salah satu penyair terbesar abad ke-20. Karya-karyanya mengilhami kesusatraan dunia, begitu juga di Indonesia. Karyanya beragam, dari sajak cinta erotik, puisi-puisi surealis, epos sejarah, puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang alam dan laut. Ia juga menulis prosa dan esai dengan kesadaran ideologis yang kental. Novelis Kolombia, seperti dicatat Wikipedia, Gabriel Garcia Marquez, menyebut Neruda sebagai penyair terbesar abad ke-20. Pada 1971, Neruda mendapat Penghargaan Nobel bidang sastra.

Saat berlangsung kerusuhan 1973, Neruda tengah berjuang melawan kanker prostat. Neruda yang mendukung pemerintahan Salvador Allende--pernah tercatat sebagai duta besar dari 1970--1972--tak berdaya melawan rezim Pinochet, hingga ia melontarkan pernyataan yang kemudian terkenal di mana-mana. Ketika militer menggeledah kediamannya di Isla Negra, dengan kesaksiannya, Neruda berkata, "Carilah--hanya ada satu benda yang berbahaya untuk kalian di sini--puisi."

Sepanjang hidupnya, Neruda mengelana ke sejumlah negara, antara lain Prancis dan Spanyol. Pengalaman di dua negara ini memengaruhi karya-karya Neruda. n WIKIPEDIA/DARI BERBAGAI SUMBER/P-1

Beberapa Karya Neruda:
  1. Entusiasmo y perseverancia (Antusiasme dan Kegigihan).
  2. 1923 Kumpulan puisi Crepusculario (Buku Senja)
  3. Veinte poemas de amor y una cancion desesperada (Dua puluh Puisi Cinta dan Nyanyian Putus Asa)
  4. Veinte poemas de amor diterjemahkan ke berbagai bahasa dan terjual jutaan kopi.
  5. Espana en el corazon (Spanyol di dalam Hatiku).
  6. Alturas de Macchu Picchu, puisi satu buku yang ditulis 12 bagian mulai 1943--1945.




Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 September 2008

Sajak-Sajak Agit Yogi Subandi

Gugusan Angin
Yang Menggerai Rambutmu
kau, seorang pendaki yang merintih di kaki bukit
hening di wajahmu seperti melawan kebencian.
lalu luka-luka menyeretmu
dan menghempaskannya ke malam basah.

di langit, luka-luka itu terbentang:
persis mimpi di dalam tidurmu
kemudian kaupandangi dengan mata lebam.
tanganmu bergetar menggenggam bongkah-bongkah kenangan

yang siap dilemparkan ke danau-danau.
kauseperti puing yang dihuni oleh iblis.
matamu memerah, semerah mata penembak jitu
pada konflik Vietnam.
suaramu petir di musim dingin
dan nafasmu diseret-seret sepi.
pada keringat langit, kaupajang kembali ingatan
ingatan yang kerap mengucurkan darah.
darah dari rongga-rongga tubuh.
tubuh yang kembali dibersihkan keringat langit.
seusai pendakian, kaupandang jalan yang tertinggal
dengan mata yang kembali putih
namun menyimpan serpihan kaca.
engkau tahu benar, kematian yang picik mengendap-endap
berkelindan di lembar-lembar angin
yang kerap menggerai rambutmu.
tapi kautetap setia:
mendaki,
turun lagi,
mendaki kembali,
dan akhirnya
mati sebagai pendaki.
(Gunung Betung/Kedaton, 2008)

Di Balik
Pintu

di balik pintu,
kubayangkan wajahmu
tersenyum rekah
seperti kembang hias
di depan rumahmu.
di balik pintu itu,
kubayangkan kausedang sibuk
dengan hasratmu:
tak sabar ingin merengkuh
tubuhku.
di balik pintu ini,
kubayangkan kau
menyiapkan seribu rindu
untuk menyerbuku.
di pintu inilah,
aku membayangkan
kau menjadi gula,
aku menjadi kopi
dan pintu itu
adalah air hangat
yang mempersatukan
kau dan aku
menjadi segelas kopi.
(Kedaton, 2008)

Ode bagi Puisi
kauseperti debu yang berkelindan di angin
setiap butir-butir debu itu musti kutangkap dan
kularutkan ke dalam tenggorokanku.
larik-larikmu, persis seperti benang kusut
yang harus kurapikan, agar dapat kurentangkan
di mata dan dada seseorang.
tubuhmu, tak ubahnya gunung Everest
yang tingginya 8,850 meter
dan harus kutempuh dengan kaki gemetar.
dan sikapmu, adalah salju bulan Januari
di gunung itu yang tak berhenti
menusuk-nusuk:
daging, mata,
paru-paru,
dan jantungku.
tapi ketika aku telah sampai di puncak,
segalanya hilang
hanya dengan helaan nafas pertama
dan ketika aku hendak meraihmu kembali,
aku harus turun,
dan mulai dari awal lagi.
(2008)

Seusai Malam di Kafetaria
:melisa
genggamlah tanganku, seperti engkau menggenggam dompet persegi panjangmu.
yang kaupercaya dapat menyimpan segala sesuatu tentang dirimu.
genggamlah, karena demi Aphrodite, Nyx, dan Eros aku ingin berada
dalam tanganmu.
engkaulah sesuatu yang tak pernah menjelma sungai yang mengalir di balik dagingku.
demi lampu-lampu yang menyatakan malam, demi bulan yang tak bisa menceritakan
tentangku kepadamu, maka genggamlah tanganku.
karena di mimpi ke seratusku, kautelah merapatkan pundakmu di dadaku.
tapi mengapa, malam yang menuntunku di meja penjamuan itu,
membuatku semakin ragu pada cahaya gemintang yang lindap di matamu?
bintang-bintang itu kaupinjam untuk kaurekatkan di matamu, di rambutmu dan
di keningmu. tapi tak sekali pun langit meminta kembali darimu.
ya, lisa, akulah gelap dan kaubintang yang bekerlip itu
tapi jika aku terang, mungkin kautak akan menjelma gemerlap di mataku.
kini, kita berada di tempat yang berbeda.
tak lagi di sebuah kafe yang penuh dusta dari gemerlap lampu
dan bintang-bintang yang kaupinjam itu.
dan aku semakin percaya, bintang-bintang yang lindap di matamu itu,
sesungguhnya bukanlah milikmu,
tapi milik malam yang melindapkan bintang-bintangnya
di matamu.
(2008)





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...