Translate

Rabu, 19 November 2008

Sastra dalam Abad Milenium di Indonesia


Oleh:
Agit Yogi Subandi


Di abad milenium ini, setiap hari dapat kita saksikan kesibukan demi kesibukan di setiap kota. Dari jalanan yang begitu padat dengan kendaraan lalu-lalang, orang-orang seperti dikejar-kejar waktu, hingga janji yang belum juga ditepati atau apa saja yang sifatnya terburu-buru dan dikejar waktu. Belum lagi iklan dan toko-toko menawarkan segala barang kebutuhan hidup yang mudah dan cepat saji membuat kita semakin memandang hidup dengan mudah.

Sesungguhnya sastra sastra sangat penting, apalagi di dunia yang serba cepat dan instan seperti sekarang ini ditambah lagi daya konsumtif yang berlebihan serta kurang menyatunya kita dengan alam membuat manusia semakin tak manusia. Manusia telah menjelma robot yang geraknya telah terprogram. Saya sepakat dengan Iswadi Pratama penyair dari Lampung yang dalam sebuah acara kesenian mengatakan bahwa sastra seperti halnya puisi, cerpen, dan novel mengingatkan kita pada hal-hal yang biasa; misalnya laut, taman, jalan, dan keheningan yang (mungkin) tak terpikirkan lagi oleh manusia pada umumnya karena telah diserbu oleh iklan-iklan yang hendak memudahkan hidup mereka. di sinilah peran sastra yang sesungguhnya: mengembalikan sesuatu yang dianggap tidak meng”ibu” lagi dalam tubuh kita. Saya sendiri merasa, dalam kehidupan sehari-hari, kita begitu dekat dengan yang namanya kendaraan baik itu motor atau mobil telah menyeret saya untuk melupakan jalan setapak di kebun-kebun, di taman-taman dan trotoar pusat kota, karena saya sendiri telah terjebak oleh kemalasan untuk tidak berpegal-pegal kaki dan nafas yang tersengal juga keringat yang berlebihan di tubuh saya. Tapi sungguh, efek samping daripada hal-hal itu menjadikan kita manusia yang menuju kesempurnaan. Kita menjadi memiliki cita rasa tersendiri dalam menmandang segala persoalan dan kita juga memiliki waktu untuk berpikir sambil berjalan, tanpa harus ada yang tertabrak oleh kendaraan kita itu.

Pablo Neruda dalam pidatonya ketika meraih nobel pada tahun 1971, mengatakan bahwa, puisi harus bisa mendidik masyarakatnya. Mungkin inilah yang membuat rakyat Chile tetap intens pada karya-karya seni, Pablo Neruda pun, menjadi abadi dan tetap bersemayam di hati penduduk Chile itu. di Indonesia, hanya sekelumit saja orang-orang yang mengerti dan mau mengapresiasikan sastra serta mencintai karya-karya sastra, itu pun (mungkin) hanya bagi orang-orang yang tak lagi memikirkan makan dan minum. sedangkan orang-orang yang demikian di Indonesia masih belum banyak, tak semuanya suka sastra. ada budaya pop yang membudaya dan gemerlap malam yang menghantarkan mereka kepada gaya metropolis yang tak seimbang dengan jiwa-jiwanya. Bergaya nyentrik dengan dandanan hippies. Sementara, orang-orang menengah ke bawah tak cukup waktu untuk memikirkan karya sastra.

Saya juga teringat dengan ungkapan Ari Pahala Hutabarat ketika berbincang-bincang soal puisi, bahwa seorang penyair harus memiliki daya pikir yang mendalam terhadap obyek karyanya. Misalnya ketika kita membicarakan rindu, kita harus filosofis dan dalam ketika merenungkannya dan mengejawantahkannya ke dalam karya. Mengapa demikian? Karena para sastrawan minimal dia adalah seorang yang mempunyai sesutau yang lebih daripada keumuman masyarakat, sebab ia mesti menjadi panutan dalam masyarakatnya. Persis seperti Neruda yang mengungkapkan bahwa karya harus mendidik dan seorang pendidik yang baik, tentu harus lebih pintar daripada murid-muridnya, harus lebih terluka dari murid-muridnya, harus lebih tau dan mempunyai pandangan estetika yang lebih dari murid-muridnya dan harus lebih baik daripada murid-muridnya.

Mungkin banyak usaha yang telah dilakukan untuk mempopulerkan sastra, tapi usaha yang dilakukan ternyata belum juga cukup. Karena sastra belum dapat menggantikan sesuatu yang dapat membuat masyarakat menjadi iklas untuk mengapresiasi karya sastra baik itu puisi, cerpen, novel, fiksi mikro dll. Tayangan sinetron di televisi ternyata telah menggantikan novel yang penuh huruf dan imajinasi tergantikan dengan artis-artis tampan dan cantik indo dan ceritanya yang klise. Benarkah para pekerja seni telah menanamkan di dalam dirinya, hendak mengisi khasanah kejiwaan masyarakat?

Sesungguhnya hakikat sastra adalah mengisi sisi kejiwaan bagi manusia. Karena sastra berisikan pesan-pesan kemanusiaan, watak, kasih sayang, persahabatan dan yang mengandung unsur-unsur sosial. Seperti penyair Pablo Neruda yang telah menyatukan masyarakat Cile dengan karya-karyanya yang dengan kekuatan elemental berhasil menghidupkan impian dan nasib benua itu. dalam pidatonya ketika mendapat Nobel pada tahun 1971, ia menceritakan perjuangan rakyat Cile yang penuh dengan penderitaan. Dan diakhir pidatonya, ia mengutip kata-kata Rimbaud, seorang ahli nujum, bahwa “hanya dengan kesabaran membara kita akan menaklukan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia. Dan ia menyimpulkan, “dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.”

Pada zaman yang serba cepat ini, tidak mudah memahami sastra secara tekstual. Karena kita jarang sekali bergaul dengan citraan-citraan yang terdapat di dalam sastra. Kota semakin menggiring kita untuk menjadi konsumtif yang berlebihan. Sehingga tak ada daya hidup yang manusiawi. Semua hidup dirancang untuk menghasilkan uang dan uang yang menyebabkan kita merasa hidup kalau ada uang. Dan yang lebih parah lagi apabila kita menghasilkan uang dengan menggunakan segala cara. Tapi disamping itu, daya produktifitas kita semakin menurun. Uang lebih kepada jasmani, sedangkan sastra adalah rohani. Mungkin itulah kesimpulan yang saya dapatkan dari tulisan saya ini.

Bandarlampung, 30 Oktober 2008.

Gambar diambil dari situs: blogotomotif.com



Minggu, 16 November 2008

Capricho Arabe - Francisco Tarrega



Francisco Tarrega come from Espagne and he is one of Guitarist classical maestro.
his composition celebrate in the world is: Recoerdos del Alhambrs, Capricho Arabe, Rosita.
he write many manual for study Guitar and used in many school specialy for Music.

Majas / Gaya Bahasa dalam Bahasa Indonesia


Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang. Majas dibagi menjadi beberapa macam, yakni majas perulangan, pertentangan, perbandingan dan pertautan. Dalam artikel ini hanya dijelaskan perbandingan dan pertentangan.

1. Gaya bahasa perbandingan

A. Majas Metafora
Majas metafora adalah gabungan dua hal yang berbeda membentuk suatu pengertian yang baru. Contoh : raja siang, kambing hitam, dll.

B. Majas Alegori
Majas alegori adalah cerita yang digunakan sebagai lambang yang digunakan untuk pendidikan. Contoh : anjing dan kucing, kelinci dan kura-kura, dsb

C. Majas Personifikasi
Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang membuat banda mati seolah-olah hidup memiliki sifat-sifat manusia. Contoh :
- Kereta api tua itu meraung-raung di tengah kesunyian malam jumat pahing.
- awan menari-nari di angkasa

D. Majas Perumpamaan
Majas perumpamaan adalah suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh :
- Bagaikan harimau pulang kelaparan
- Seperti manyulam di kain lapuk

E. Majas Antilesis
Majas antilesis adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh :
- Semua kebaikan ayahnya dibalas dengan keburukan yang menyakitkan.

2. Gaya Bahasa Pertentangan

A. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah suatu gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan. Contoh :
- Ibu itu terkejut setengah mati ketika mendengar anaknya tidak lulus ujian nasional.

B. Majas Ironi
Majas ironi adalah gaa bahasa yang bersifat menindir dengan halus. Contoh :
- Pandai sekali kau baru datang ketika rapat mau selesai

C. Majas Litotes
Majas litotes adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang baik menjadi bersifat negatif. Contoh :
- Mampirlah ke gubuk saya! (padahal rumahnya besar dan mewah)


sumber: Organisasi.org (komunitas dan perpustakaan nasional).



Come Away With Me (Norah Jones)

Semoga lagu ini menjadi pelantun rindu bagi anda untuk seseorang.




Come Away With Me, by Norah Jones.

Brothers Einstein: Pride of the Americas -- Octavio Paz



Pride of the Americas is a Spanish-language series of 26 30-second commercial wraparound vignettes, perfect for spot TV, radio, online, or classroom applications. For more information, please contact Mike Einstein via email at mike@brotherseinstein.com

Source: http://www.youtube.com/watch?v=NDT9zfYW_Fs

Rendra Baca Puisi di ITB, 1977




"Sajak Sebatang Lisong" dipersembahkan Rendra buat mahasiswa ITB dan dibacakan pada 17 Agustus 1977, sekaligus menjadi salah satu adegan fil "Yang Muda Yang Bercinta" karya (alm) Syumandjaja yang dilarang peredarannya

Sabtu, 15 November 2008

Yang tiba-tiba melesat

Di Semenanjung

arah kedatanganmu, arah kedatanganmu,
yang tak pernah kau beritahu kepadaku.

nasib berlarian, mengitari semesta.
semesta, meringkus nasib.

engkau adalah kalimat puisi yang tertinggal.
engkau adalah kesan yang tak dapat kutuliskan.

betapa cahaya terasa mengepung, melempar
tombak-tombaknya ke punggungku, ke mataku.

camar-camar memanggil dari rentangan cahaya
paruhnya mengais sejuta kengerian ikan.

“beri aku tanda, tentang arah kedatanganmu.
kutunggu! meski tanggal gugur, satu-satu.”

meski bulan-bulan akan menjadi basi
dan tahun-tahun akan membusuk di dadaku.

datanglah! datanglah! akan kumaknai penantian
sebagai kutub yang mengangan matahari.

peluh yang mengalir adalah pujian
yang tak sampai kepadamu.

gelisahku, gemetar daun-daun
dan angin yang menggerai rambutmu,

datanglah! datanglah!
bahwa kaubenar ada,

tunjukan padaku,

(2008)



Kalau Aku Harus Membisikkan
Desah Daun-Daun Kepadamu

mungkin akan kau tangisi setiap gugurannya,
seperti engkau menangisi punggung yang semakin menjauh.
betapa hujan akan menidurkanmu di ranjang-ranjang lembab,
dan menceritakan dongeng pengembara yang terjatuh
di jurang-jurang,
..............................sepanjang sungai.

(Nopember, 2008)



Buku

buku,
segumpal awan di cakrawala:
kepingan malam seseorang yang hilang.
engkaulah jiwa yang memperlihatkan
sebentuk bola kapas dari tubuhmu.
.................tubuhmu segumpal awan
yang melahirkan petir, hujan dan mungkin
.................tornado.
aku tak pernah tahu tentangmu,
bila tak bermimpi menggapai keluasan
........cakrawala,
membuatku melayang-layang
dalam ketakberhinggaan.
seperti engkau yang kerap merubah tubuhmu
pada musim-musim.
engkaulah kepingan-kepingan yang terhampar
.......bagi penafsir surga dan neraka,
pembuka jalan bagi kembara yang tengah sangsi
akan pertanyaan dalam dadanya.
........engkaulah setitik lampu
bagi manusia yang menyusuri semesta.

(2008)



Octavio Paz

Octavio Paz

Orang besar tidak tumbuh sendiri. Ia hidup dalam pergaulan dengan orang-orang berpengaruh pada zamannya. Sastrawan peraih Nobel Sastra 1990 asal Meksiko, Octavio Paz, adalah salah satu orang besar yang berkembang dalam pergaulan dunia.

Paz yang meninggal 19 April 1998 juga dikenal sebagai esais. Ia termasuk penulis produktif. Karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Puisinya antara lain diterjemahkan oleh sastrawan Samuel Beckett, Charles Tomlinson, Elizabeth Bishop, dan Mark Strand.

Paz lahir 31 Maret 1914 dengan nama lengkap Octavio Paz Lozano. Ayahnya bernama Octavio Paz Solorzano, ibunya Josefina Lozano. Paz tumbuh di Mixcoac, bagian dari Meksiko City. Di Mixcoac, Paz bersama kakeknya, Ireneo Paz; yang tercatat sebagai intelektual berpengaruh di Meksiko pada zamannya, juga novelis. Ireneo-lah yang merangsang Paz memasuki wilayah intelektual.

Paz membaca karya-karya klasik sastrawan Meksiko dan Eropa yang berpengaruh seperti sajak-sajak Gerardo Diego, Juan Ramon Jimenez, dan Antonio Machado. Yang terakhir, Machado, adalah penulis Spanyol yang mempengaruhi karya-karya Paz pada masa awal.

Paz pertama kali mempublikasi sajak Caballera pada usia 17 tahun. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan kumpulan sajak Luna Silvestre (Rembulan Liar).

Karya-karya Paz juga dipengaruhi marxisme, surealisme, dan eksistensialisme. Nuansa Buddhisme dan Hinduisme juga terasa dalam karya-karya Paz. Sajak Piedra de Sol®MDBU¯ (Sunstone/Matahari Batu) yang ditulis tahun 1957 tercatat sebagai sajak surealis. Paz juga menyentuh masalah seksualitas, cinta, dan kehidupan manusia dalam sepi.

Sebagai esais, Paz menulis berbagai pokok masalah, seperti perpolitikan Meksiko, ekonomi, seni budaya, antropologi, dan seksualitas. Seperti sajak-sajaknya, esai Paz juga banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Mari baca penggalan sajak Octavio Paz yang berjudul Motion (Gerak):

Gerak


Jika engkau kuda betina bergairah
.....................Aku kelok-jalanan penuh darah
Jika engkau salju pertama yang mekar
.....................Aku orang yang menyalakan jantung fajar
Jika engkau menara malam hari
.....................Aku di ingatanmu pasak berapi
Jika engkau genangan pagi yang pasang
.....................Aku perih tangis pertama burung di sarang
Jika engkau keranjang buah jeruk matang
.....................Aku kemilau mata pisau matahari terang
Jika engkau meja batu persembahan
.....................Aku sepasang ulur-tangan berdosa
Jika engkau daratan yang tertidur
......................Aku batang-batang hijau subur
Jika engkau lompatan kaki-kaki angin
......................Aku jilatan nyala api yang dingin

WIKIPEDIA/DARI BERBAGAI SUMBER/P-1

dikutip dari: Lampung Post Minggu, 28 September 2008

Workshop Bengkel Penulisan Fiksi Mikro

Oleh:
Agit Yogi Subandi



Fiksi mikro, merupakan pengembangan dari khasanah sastra yang sudah lama berkembang. Di Indonesia pun bukan hal yang pertama pula. Sudah ada penulis fiksi mikro sebelumnya seperti Sapardi Djoko Damono, Danarto dan lain-lain. tapi fiksi mikro belum berkembang seperti laiknya cerpen, puisi atau novel di Indonesia apalagi teen-lit dan chik-lit tentu tidak sepadan apabila dibandingkan jumlah penjualannya atau jumlah bukunya apatah lagi kualitasnya. Fiksi mikro pada hakekatnya yang bisa menuliskannya adalah para penulis yang telah mahir dalam bahasa. Sebab genre ini memiliki cara pengungkapan yang berbeda dari prosa pada umumnya. Sulit membedakan antara fiksi mikro dengan puisi, fiksi mikro dengan cerpen. Tapi A. S. Laksana yang menjadi narasumber pada workshop ini menarik garis besar atau memberi batasan mengenai pengertian fiksi mikro dengan metafor yang mudah dimengerti. “Novel adalah sebuah rumah yang mana kita diajak masuk dan menikmati ruangan, melihat dan merasakan peristiwa di dalamnya, dan cerpen adalah kamar yang hanya disaksikan dari sebuah jendela. sedangkan fiksi mikro atau flash fiction adalah menyaksikan sebuah ruangan sebuah rumah dari sebuah lubang kunci.” Begitulah yang beliau katakan.

Saya setuju dengan ungkapan Bung Sula (sapaan akrab dari A. S. Laksana) mengenai batasan itu. memang sulit mengambil garis tegas perbedaannya. Tetapi dalam makalah Iswadi Pratama mengenai fiksi mikro pada waktu pengumuman hasil lomba cerita mini ini mengutip David Lagmanovic yang juga dikutip oleh redatur Kompas Hasif Amini sebelumnya memberi batasan: fiksi mikro adalah narasi pendek, yang bisa terdiri dari hanya beberapa kata hingga satu atau dua paragraf, atau satu atau dua halaman, dipadatkan secara maksimal dan indah bagaikan sebuah torema. Sementara Lauro Zavala melakukan pembagian berdasarkan jumlah kata: fiksi mikro terdiri dari kurang dari 2000 kata; fiksi ringkas atau sudden fiction/short short terdiri dari 1000—2000 kata; fiksi amat ringkas atau fiksi kilat atau flash fiction terdiri dari 200—1000 kata; dan fiksi ultra ringkas terdiri dari 1—200 kata. tapi tidak semua peserta puas mendengar jawaban ini, sehingga terus-menerus pertanyaan mengenai batasan diperbincangkan. Tapi Iswadi Pratama memberikan satu lagi peryataan mengenai hal ini yang ia kutip dari Irene Zahova yang mengajukan perbandingan menarik adalah cerita yang bisa dinikmati dalam satu sesap kopi, dalam rentang waktu habisnya sekeping koin di telepon umum, dalam ruang yang tersedia pada sehelai kartu pos. cukuplah dimengerti batasan fiksi mikro bagi para peserta workshop penulisan.

Proses kreatif

Pada dasarnya mula sebuah proses kreatif adalah meniru, ucap bung Sula. Dulu, ia meniru penulis-penulis besar seperti Hemingway, Borges, Danarto serta penulis-penulis besar lainnya dengan mengetik ulang karya-karya mereka. agar tangannya terbiasa pula merasakan mengetikkan kalimat-kalimat bagus. dengan demikian ia dapat merasakan emosi si para penulis dan mengerti pola pikir penulis-penulis tersebut. tapi tidak menjiplak untuk kemudian dijadikan karya-karyanya. Hanya sebagai latihan! Tukasnya. Sebagai penulis tidak boleh menjiplak. Hanya sebagai penambah wawasan saja. Setelah itu berjalan sendiri. Karena dengan meniru kita dapat mengikuti apa yang sedang kita tuju. Semisal ketika kita masih kecil, untuk belajar berbicara, kita berusaha meniru bagaimana mengucap sebuah kata atau kalimat dari bibir ibu atau bapak kita. Contoh kedua ketika kita hendak belajar bahasa Inggris, kita juga meniru model pengucapnnya sehingga persis dengan semestinya. Pengembangan dari proses peniruan itu tadi, akan mempengaruhi kepada pola pikir, sudut pandang dan cara menulis.

Selain itu, ia juga menyarankan agar para penulis membaca karya-karya orang. sebab menulis itu sama dengan membaca. A. S Laksana mengibaratkan seorang penulis adalah seorang koki masak di sebuah restoran besar. Katanya, Bagaimana memasak kalau tidak pernah belanja? Belanja sama dengan membaca dan memasak adalah menulis dan tahap pengeditan adalah penyajiannya. Begitulah katanya.

Workshop bengkel penulisan cerpen mini yang berlangsung dari tanggal 1-2 November ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Lampung yang berkerjasama dengan Unit Kegiatan Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Adapun sebagai ketua pelaksana pada acara ini adalah Ari Pahala Hutabarat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung dan ditemani oleh seorang cerpenis Lampung yaitu, Arman A.Z. acara ini juga dihadiri oleh sejumlah sastrawan Lampung antara lain: Iswadi Pratama, Inggit Putria Marga (MC), Noorcholis (penerjemah), dan Isbedy Setiawan Z.S yang pada alam minggu mengisi materi tentang proses kreatif.

Senin, 10 November 2008

Selasa, 04 November 2008

cerita mini Agit Yogi Subandi

Kue Ulang Tahun dan Kematian
oleh: Agit Yoi Subandi

Dua jam sebelum kematian, lelaki tua itu sempat memungut paku-paku yang bertebaran di lantai gudang. Empat buah bingkai bergambar nenek moyang, ia kaitkan di ruang tamu: orang-orang yang pernah memberi tuhfah berupa bibit palma, patung kayu, dan jam dinding yang kini telah berkarat. Betapa tubuhnya kuyup oleh keringat.

Pada bingkai pertama ia rasakan sendi-sendinya mulai kaku. Setiap kali terdiam, ia mendengar angin di daun palma yang telah membesar. Kemudian setelah kelelahan memaku bingkai kedua, ia pun terdiam lagi, dilihatnya patung kayu terjatuh dari almari dan patah. Tapi ia tak ingin berhenti, ia ingin menyelesaikan segala sesuatunya. Mungkin dengan tunai memaku dan mengaitkan empat buah bingkai itu, ia dapat membujuk patung kayu itu dengan tenang. Tapi kulit laki-laki tua itu terus menerus mengucurkan keringat dari pori-pori yang makin melebar. Wajahnya memerah. Tubuhnya gemetaran. Ia yakin, dengan merawat benda-benda pemberian itu akan jauh dari kutukan, dan sesuatu yang telah tiada akan tetap diingatnya meski sekelebat saja.

Selesailah bingkai ke empat di kaitkan. Jam dinding berkarat itu berbunyi. Menandakan jam 12 malam. Lelaki tua itu bergegas menuju dapur untuk mengambil kue ulang tahun yang telah ia siapkan sejak jam 8 malam. Tak dihiraukannya lagi patung-patung yang telah patah. Rupanya, ia bekerja keras mengaitkan empat bingkai itu, untuk melupakan kesendiriannya. Kemudian lelaki itu menancapkan angka 63 di atas kue bolu yang hanya dilapisi mentega yang ditaburi parutan keju dan kismis warna-warni. Lalu ia nyalakan dengan gemetar. Dipandangnya nyala lilin itu.

Setelah siap, maka lelaki itu bertepuk tangan. Lamban sekali. Sambil bersenandung happy birthday dengan pengucapan lirih. Ia pun menangis. Tapi tak ada yang menenangkannya. Tak ada yang menyentuh pundaknya. Suaranya makin tak ada. Lalu ia tiup. Phuh! Dan bersandarlah ia di kursinya, perlahan-lahan dahinya berkerut. Seperti berpikir atau mungkin mengenang atau mengingat sesuatu yang tak ada. Tapi begitu lama.

Angin pada daun palma kembali lagi. Patung-patung tetap pada tempatnya. Daun jendela terbuka, tirai-tirai menggelembung dan mengempis. Pintu tak terkunci. Kue ulang tahun masih utuh. Tak ada lagu-lagu. Tapi ia tetap tenang dan terjaga dari kesunyian.

(2008)

Minggu, 02 November 2008

Kumpulan Puisi Agit Yogi Subandi

Gigil Blues

seperti serigala yang merintih
di bawah redup rembulan.
kaucari kembali nada-nada yang
menghilang di balik malam
kaugantung hentakkan melodi di lekuk dada.
berita kekalahan menjadi syair.
syair yang akhirnya kaupercayakan
pada Norah, Armstrong, Fitzgerald
yang membawamu berpacu
dalam gerah yang makin muram:
“akh, malam yang fana!”
katamu dengan mata memerah.
kaureguk lagi kenangan
seperti tetesan dari keran
yang tak lagi menyimpan air.
dan tenggorokan sekerontang kemarau,
kaki petualang bugil,
tangan para penyair
menjadi rentan oleh hujan yang meruncing.
dan di bawah redup rembulan
harapan tergantung
pada lampu yang menguning.
namun tak dapat menuntaskan hasrat kelam
seorang muram
yang hendak menampik luka.
dan akhirnya,
kauterus bernyanyi
hingga kau
menjelma Blues yang menggigil
di malam hari.

(2008)




Di Permukaan Air Bening

dalam bening air, kutaburkan serpihan wajahmu.
seperti menabur kembang setaman bagi ruh yang
gentayangan. aku tak sedang bermimpi, tapi aku sedang
mengembalikan kota-kota yang hampir membusuk di
tubuhku,
................di otakku.

lewat bening air itu, kususun kembali ingatan bersamamu.
memperbaiki halaman-halaman yang koyak atau
menyingkapnya dari debu yang terlahir dari perjalanan
yang kehilangan pangkal perencenaan.

namun aku tak dapat mengembalikanmu seperti dulu,
meski aku sangat menginginkanmu.
aku adalah air, kau bayangan sebatang pohon
yang bergantung pada cahaya terik.
.................................cahaya yang membuat kau dan aku
sadar kapan harus berjalan dan tidur.

kau bayangan yang tak dapat mengikuti dirimu.
kau wujud yang kusimpan dimataku,
sejauh aku menginginkanmu,
sejauh aku mengingatmu.

kau adalah wajah yang kukekalkan di mataku.
yang sengaja kususun di permukaan air bening ini
untuk menjagamu dari ketiadaan di otakku.
tapi apabila kusentuh, aku akan basah
dan kau akan hanyut. wajahmu tenggelam. dan aku
akan kembali merasakan kehilangan.

(2008)



Seperti kota
yang ditinggalkan kendaraan
dan orang-orang yang terlelap


jika aku harus tinggal di matamu, maka aku
menginginkan kesunyian di relung dadamu.

seperti kota yang ditinggalkan kendaraan dan orang-
orang yang terlelap.

apabila musim hujan singgah, maka aku
menginginkan selimut tebal yang berasal dari:

senyummu dan tubuhmu.

dan dalam keheningan yang sedkit curam ini, aku
menaburkan benih angan-angan:

untuk menjumpaimu.

(Kedaton, Oktober, 2008)




Pagi

langit yang merekah
suara kendaraan lahir
dari cemas orang-orang
yang bergegas.

daun-daun terbakar
di pipi Jakarta.
dan ada saja
yang tersesat

di jalan Ibukota.

(Jakarta, Oktober, 2008)



Perempuan di Antara
Pepohonan Jakaranda


—inspirasi dari lukisan F.X. Teguh Prima



langit merah saga menjadi laskap bagi pepohonan.
dan perempuan itu, sendiri menatap jalan setapak di depannya.
seolah-olah ada yang dinanti, seolah-olah ada
......................................................................yang meninggalkannya.

rambutmu tergerai, berayun-ayun dan sesekali membuka
punggungmu yang terhampar masa lalu.
rambutmu adalah cemara sutra.
dan semak belukar di dapannya dan kusut itu,
persinggahan terakhir bunga-bunga jakaranda,
menjelma permadani ungu.

lihatlah perempuan itu;
rambut dan blues putihnya kerap tersingkap angin.
ia sedang mengusir masa lalunya lewat gelembung bajunya.
hingga tubuhnya seperti gunung volcano yang gemetar
......................................................................mengeluarkan lava.

tapi ia tak sadar, betapa angin, guguran jakaranda,
semak belukar dan langit merah saga serta kenangan
yang terusir, beberapa detik telah lesap ke dalam tubuhnya:
menjelma masa lalu pula,
ingatan pula:
tentang dirinya di antara hutan
jakaranda.

(2008)



Di stasiun kereta

di stasiun kereta menjelang sore, hidungku
mencium amis rel kereta yang menyepuh karat.
renyai yang menguak luka,
luka dari ratusan tahun yang lalu.
batu-batu yang sejak puluhan tahun yang lalu
tak beranjak, kecuali terlempar
hanya mengisyaratkan kepergian dan kedatangan
lewat getaran.
aku memulai kisahku di sini,
di antara hujan yang menetaskan rindunya
kepada tanah, kepada pohon,
dan kepadaku,
mungkin juga kepadamu.
di sinilah kedatangan dan perpisahan bermula:
di gerbong kereta,
di kepingan karcis
dan bangku
bagi para penunggu.
percakapan tak selesai, isyarat pertemuan..
karena kita tak pernah benar-benar terpisah.
kita adalah stasiun-stasiun kecil
yang disambungkan oleh rel kereta.
agar di sana, ada yang berkisah
tentang perjumpaan dan perpisahan.

(Stasiun Labuhan Ratu, 2008)

Sabtu, 01 November 2008

Pertengahan Oktober

cerita purba kembali di pertengahan oktober ini.
menyembul serupa suara keras. suara yang
bertubuh tumpul, kerap membentur-benturkan
tubuhnya ke dinding kayu rumahmu:
menggegar! di pintu-pintu durjana, di lantai
yang murka, di jantung bingkai tua yang
berdarah; jantung yang dicungkil pengembara
yang siap dengan keranjang bahasanya. serta
melankolia album foto di rak-rak buku yang
menjelma jarum jahit: merekatkan ingatan yang
koyak di lumbung kepalanya yang dicabik berita
kehilangan dan kedatangan: menyatukan
bayang-bayang yang mengudar, menguap ke
langit siang dan kembali pada saat musim hujan.
langit seperti mata perempuan yang
menyaksikan sinema india yang tragis.
kesedihannya tumpah di balik jendela kamar si
pengembara: aroma tanah menguar, aroma karat
besi meyebar menjadi satu melawan wangi
kuntum-kuntum bunga, menolak kejernihan di
hidung para penghisap keheningan dari baris-
baris kesedihan langit. maka berlarilah ia
menuju jendela. memberi kesaksian pada yang
tertumpah di rumput-rumput halaman, di
sepanjang kembang pagar, di kembang merah,
kuning dan sebatang pohon cengkeh yang
ditinggal daun dan ranting. tinggal tubuh yang
kaku. seperti pedang ksatria yang tertancap
dalam dengan gagang berkerak darah.

(Palembang-Lampung, 2008)





Hening


kini kumasuki kota yang apabila siang dan malam
tetap hening. orang-orang melintas hanya diam,
namun tubuhnya bergetar dan berdarah. setiap
sapaanku mambang, seperti angin yang terlahir
kemudian menerbangkan kertas-kertas koran,
plastik-plastik bekas makanan dan puisi-puisi yang
tercecer di trotoar protokol jalan. mata mereka
menelisik sejauh aku berlalu. mulut mereka
berkatup-katup, namun tak ada kata yang meletup
dari bibirnya: mungkin persis isyarat bagi orang
tuli. mungkinkah aku tuli? sebab mobil-mobil yang
melintas dan berlalu tanpa suara. langkah tanpa
suara. burung-burung tanpa kicauan, angin tanpa
desauan, daun tak bergemerisik, beradu, tiang-tiang
listrik yang dipukul-pukul dengan kayu, anjing-
anjing juga tanpa gonggongan.


pada malam hari, kota itu hanya gemerlap lampu.
cahaya paris namun sediam kamp-kamp jerman
bagi kaum yahudi. tak ada lenguh dan keluh. yang
ada hanya tubuh peminta-minta yang menggigil
diterpa dingin. bila aku berjalan, mata mereka
menelisik kembali, mereka katakan sesuatu, tapi
kata-katanya tak sampai. mereka seperti diselimuti
air. kedap. hanya gerak bibir yang dapat kutangkap.
menebak-nebak bibirnya akan mengeluarkan huruf
apa. ketika subuh melepuh, pun begitu seterusnya.
siang dan kembali kepada malam lagi. hingga satu-
persatu orang-orang di kota ini menghilang
...................tak kembali.
mungkin mati. hanya sedikit yang bertahan di sini.
hingga membeli rumah dan merangkai taman yang
penuh dengan bunga bermekaran. musim dapat ia
beli sendiri, hingga ia abadi dalam musim itu
sendiri. ada pula yang merawat lukanya hingga
borok dan mengeluarkan nanah. apabila ia berjalan,
jalanan akan bebercak darah yang mengering,
berkerak. pernahkah kaumenyasikan dada yang
menggelembungkan nanah, siap meletup pada
cahaya terik dan sentuhan pertama.

aku sedang menyaksikannya.


(2008)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...