Translate

Minggu, 28 Desember 2008

Yang Muncul di Akhir Desember



Tukang Kayu dan Penyair


      Ada yang memaku kayu. Dentaman demi dentaman turut pula menghantam
kepalaku. Tapi ia tetap memukul-mukulkan palunya ke kayu itu.
      Aku berdarah, tapi darahku bening embun. Ia datangi embun di kepalaku.
Diseruputnya.
      Tukang kayu itu kembali setelah melepas hausnya. Kemudian ia pukul lagi
sebuah kayu dan menyeruput lagi.
      “terima kasih!” katanya dan aku terdiam. mataku 2 sumber mata air pegunungan. Ia pun meminumnya dari mataku.

(Kedaton, 2008)

Senin, 15 Desember 2008

Di Sebentang Petang

Sajak Agit Yogi Subandi
Di Sebentang Petang

sehelai daun jatuh,
.....................melayang-layang.
ranting pohon menerima lambaian,
tanpa membalasnya.

dan ranting itu tak pernah bisa
memanggilnya kembali.
“tubuh harus tetap sekaku batu,
agar dapat merelakan yang berlalu.”
katanya sambil menjaga yang tersisa.

maka ia jatuhkan setetes getah
untuk menyertai daunnya kembali ke tanah.

(2008)

Puisi

Sajak Agit Yogi Subandi
Puisi

seperti debu berkelindan di angin
setiap butirnya musti kutangkap dan
kutelan.

larikmu, kusut benang
harus dirapikan, agar dapat direntangkan
di mata dan dada seseorang.

tubuhmu, tinggi gunung bersalju
kutempuh
dengan kaki gemetar.

dan sikapmu, salju bulan Januari
di gunung itu
yang tak henti menusuk:

kulit, mata,
paru-paru,
dan jantungku.

tapi setelah di puncak,
segalanya hilang
pada helaan nafas pertama

dan ketika hendak meraihmu kembali,
aku harus turun,
dan mulai dari awal lagi.

(2008)

Pemancing

Sajak Agit Yogi Subandi
Pemancing

dengan kail kecil, dan umpan cacing,
kunanti kau makan umpanku,
pada jam pertama, aku belum gelisah.
karena memburumu, mesti paham waktu.

tapi ketika matahari memancar dengan kebencian,
sebatang pohon mungkin adalah dewa. dewa dengan
payung hijau dan kembang rekah di tangannya,
menguar sejuk dan semerbak aroma.

di situlah, segala harap tak genap bermunculan.
tapi sedengung lebah dapat mengusirku.
tapi tidak! aku harus memburumu hingga senja
tertoreh bagai luka yang membusuk di pipi kiriku.

jam kedua, mungkin aku terbiasa.
jika kau bukan milikku, aku pulang.
jika kau milikku, aku tetap pulang dengan menggenggammu,
melewati setapak penuh bambu yang gemetar oleh angin pilu.

(2008)

Jumat, 12 Desember 2008

Kepada Lina

Sajak Agit Yogi Subandi

Kepada Lina


/1/

di luar jendela, cahaya rebah di aspal hitam. pohon
dan daun-daun berbayang. kemudian cuaca,
peristiwa dan kamu menjelma anak-anak yang riang
menari.

ya, Lin, jendela ini sering menghantar aku
kepadamu, meski kamu hanya bayang: berlesatan
menggodaku untuk menjumpaimu.

maka kutulislah sajak untukmu: tentang lautan dan
ombak jam delapan pagi, sebagai penakluk deras
rindu di dadaku yang hendak bermuara di dadamu.

/2/

Pesisir Pantai

pagi, kususuri pantai tanpa camar dan kapal sandar.
desau angin yang tak tentu dan debur air laut
berdatangan seperti wiru, hendak menggapai kaki
dan menghapus setiap bekas lesakannya di lenyau
pasir itu.

di pesisir basah, kupandangi remah karang yang
terseret ke tepian, murung batu apung tertimpa kayu,
cangkang siput meretak dan kepiting tergesa-gesa
menuju laut. umpama sehabis berperang, tubuh-
tubuh yang mati terserak tertinggal dan yang selamat
pulang.

kupandang juga laut lapang yang seperti jembar dada
ibu. seorang ibu yang dadanya sangat leluasa
menyimpan aku, ayah, kenangan, sayuran dan
mungkin kamu. laut itu, Lin, rindu yang tak
berhulu.

rindu itulah yang membimbingku untuk terus
berjalan dan menuju tinggi batu. singgahlah aku di
batu pertama.


Batu Pertama

di batu itu, kautak bisa melepas pandanganmu
kepada air besar dan batu yang tersibak lantaran
dihantam repetisi ombak. angka-angka di jam
tanganku letih menghitung waktu kedatangannya.
tapi setelah ombak pecah, membuih dan pudar, air
laut itu kembali jernih. hingga tak perlu kaumencari
bintang laut terkubur pasir, satu dua ikan kecil
berenang atau ganggang yang sabar menuntun riak
air dengan pandangan yang menajam.

sungguh jernih, Lin: mirip matamu yang menyimpan
bait-bait puisi.

ah, matahari melepuh di tanganku. dikirimnya juga
kemarau dan ilalang kering di tenggorokanku.
akupun turun. mencari sejuk.

setelah lama, kulihat batu yang lebih tinggi di
sebelahnya.

Batu Kedua

pada batu kedua, kubuka lubuk lampau di dalam
catatan yang kutulis dan kubaca sendiri. di dalamnya
tersimpan rumah tua yang ambruk oleh sebab
merapuh, lembab cuaca, epitaf ibu, dan bapak di
negari. betapa darah berdenyaran dan batu
menyerpih di mataku, lantaran rindu terjuntai tanpa
malka.

dan sesekali aku menuliskanmu yang selalu berlalu.

di batu itu, kutemukan pula batu yang menyerupai
kristal. masa lalunya dicuri ombak: secuil demi
secuil. tapi tetap kukuh sebagai batu. ia tak berubah
menjadi sebilah bambu atau kayu yang turut arus
menghantam batu dan batang yang masih tertanam.
malah aku pernah melihat batu itu menghalau
batang besar yang hendak menghantam orang-orang
yang kusyuk mencipta kenangan (mungkin juga aku,
nanti).

lalu kulempar mataku di kaki langit, di lautan yang
berombak.

mungkin kini, aku adalah ombak yang bergulung-
gulung dan membentur bebatuan itu. mungkin kini,
aku adalah ombak yang tak sampai pada tepian itu.

/3/

dari terbit hingga tenggelam matahari, hasrat dan
bahasa bergumul mengucapkan kamu yang entah di
mana. kau serupa awan yang terlihat, namun tak
dapat diraih oleh tanganku. tak ada tempat istirahat
bagi tanganku. pundakmu bukanlah milikku. tapi
jika pundakmu disentuh oleh sesiapa saja, terasa
tangannya di pundakku. dan apabila tirai telah
kututup kembali, kau tetap ada. dan apabila jendela
itu berlapis tujuh, mungkin matakulah yang dapat
menembus dan melihatmu di luar sana.

tapi aku tak berduka, apabila tak dapat
menyentuhmu. dukaku adalah ketika aku tak dapat
menuliskan kegelisahan di sajak. dan akan lebih
berduka lagi ketika sajakku tak menjadi apa-apa
setelah ia terlahir dari tanganku.

entah berapa sore telah tanggal di jendela. sumbu
jam meraih malam. tubuhku memintal dingin.
dingin dari musim gugur yang meluncurkan daun
merah, kuning dan ungu di tingkap yang dekil ini.

jangan kautanya seberapa ngilu desis angin di
telingaku, tapi tanyakan, seberapa banyak fotomu
menjadi fragmen yang memfosil di dadaku.

sementara bentang jarak antara kita, makin abu-abu.

/4/

mungkin, aku gagal membaca arah kedatanganmu.
kalimat-kalimat kuyu menerjemahkan kamu. berapa
sajak telah menuntaskan malam? tubuhku gemetaran
hingga aku mati,
.........................hidup lagi,
......................................mati lagi,
.................................................dan hidup kembali.

jika kaudatang ke pantai bersama sajak ini dan
kausaksikan ombak berdeburan menghantam
bebatuan, itu adalah semangatku yang hendak
menggapaimu.

sentuhlah, ombak itu akan tenang:

setenang subuh yang perlahan memudar, ketika
menjumpai matahari yang sadar.

(Kalianda, April, 2008)


Ode Bagi Yang Jauh

Ode Bagi Yang Jauh


petir menyala di dada musim hujan
sore makin remang, aku tahu kau tak akan datang.
awan berjalan,
angin kesekian telah menjauh.
kau tak akan mendengarku,
sebab petir yang menyala di dada musim hujan ini
tak pernah sampai kepadamu,
waktuku, tak pernah sama dengan waktumu
kebisuanku tak pernah kaupecahkan.
engkaulah lebah yang menyengat jantungku
kemudian terbang perlahan bagai asap rokok
yang menghilang diterpa angin pertama.

hujan,
hujan di musim ini,
mungkin tak pernah jatuh di matamu
karena matamu
menampik musim yang datang.
matamu dalam,
dingin seperti lorong bawah tanah
namun bunga dan kembang merekah
terkadang, serpihan cahaya matahari jatuh di situ
aku sering tidur dan membaca kisah cinta kuno.
tapi mengapa aku merasa jauh?
entahlah.

petir menyala lagi di dada musim hujan
sore makin remang, aku pastikan, kau tak datang.
khayalku, cerita yang hilang selepas subuh
kau tak akan mendengarku,
jarak, terasa lebih jauh dari yang kita hitung.
jika kau mendengar petir di langit musim hujanmu
bersahut-sahutan,
percayalah, bahwa itu adalah suaraku yang geram pada langit
karena tak bisa menjumpaimu
dan jika kaulihat kilatan cahaya di langitmu,
itu adalah usahaku untuk merobeknya
agar dapat keluar dari balik langit:

menjumpaimu.

(Kedaton, 2008)

Jumat, 05 Desember 2008

Ode to Poetry

Agit Yogi Subandi's Poetry

Ode to Poetry


You, the dust who move in the wind
Every grains surely I catch and
I swallow

Your row, tangled of thread
That I must tidy up, in order to extend
In someone eyes and chest

Your body, the highest Everest Mountain
That I certain distance
With trembled feet

And your gesture, is snow on January
On that mountain
Is never end to stabbed:

Skin, eyes
Lungs,
And my heart

But when on the top,
Everything is gone
With the first take a breath

And when I will got you again
I should go down,
And start at the beginning again.

(2008)

Agit Yogi Subandi's Poetry

Tonight, I Remember You

1
Tonight I remember you, between sleepiness and wake up.
From minute to minute, hour to hour, you always come with
unfinished scenes. And I don’t want
you finish it. Because I don’t want to
knock your bosom which is full of
future image who always visited by you everyday than you left it
to be a past.

2
On the daylight, your eyes was shone, and you give me
a several second for stop in your eyes. I found a seat
spread out of grass and I was heard
a morning birds, and the wind which come and
pass through. Like a song with turning soft and touch
my heart.

That’s too bad, I never found a certainly in your eyes:
about a long journey or deep longing compensate on the side of
river. So I’m out from your eyes, with wink of my eyes.

3
Now your face like a blooming flower in the morning, which
after dew go down from calyx like flower and
willingly plundered by the sun.
When you smiling, the both of your check had tears like
expanse of butterfly wings. whole world silent,
lotus poured down

I don’t know form where.

4
Tonight I remember you, but I don’t want to
pull archer’s bow and pass to your heart. I just want
to reminisce about you from meeting by meeting and from
leave by leave. Our footstep is deep and piled up
by the another footstep.

(2008)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...