Cangkul Tumpul

Puisi Agit Yogi Subandi

Aku di dalam cangkul yang tumpul. Ia tak bisa lagi menggali tanah hingga dalam. Orang-orang yang mencangkul, akan mengencangkan otot tangannya. Tanah-tanah terasa keras di mata cangkul itu. Kami tak bisa mengasahnya. Kami tak bisa menghiasnya. Kami tak bisa membuatnya menjadi cangkul yang bisa digunakan untuk berkebun. Di dalam cangkul itu, kami beranak pinak. Kami menulis sajak pesimis. Kami makan dan minum dari tangis kawan kami sendiri. Mungkinkah cangkul dan kami akan tetap berarti? Sementara kawan-kawanku semakin pandai menyulam asmara purba: Saling menggoda, saling bertanding luka.

Kepala-kepala kami menjadi batu. Batu yang mudah pecah. Kami beradu kepala hingga remuk. Siapa yang bertahan? Kami menodai diri kami sendiri dengan lumpur-lumpur sawah. Kami membunuh kawan kami dengan prilaku dan kata. Pisau adalah alat pencankok kebencian di tubuh kami. Kami seret mayat-mayat itu ke lubang-lubang kepiting dan tong-tong sampah. Kami diam. Kami mensucikan diri dengan menggendong bayi-bayi dan membuka perayaan dengan pidato. Burung-burung gagak berterbangan sambil tersenyum senang sekaligus bengis. Aku diam. Kami menjadi diam. Percakapan justru membungkam. Otak kami mati. Tangan kami hanya menjelajah ruang rahasia. Cangkul tumpul. Tanah mandul.

Tanjung Karang, 2009


Comments

Popular Posts