Translate

Minggu, 25 Januari 2009

Cangkul Tumpul

Puisi Agit Yogi Subandi

Aku di dalam cangkul yang tumpul. Ia tak bisa lagi menggali tanah hingga dalam. Orang-orang yang mencangkul, akan mengencangkan otot tangannya. Tanah-tanah terasa keras di mata cangkul itu. Kami tak bisa mengasahnya. Kami tak bisa menghiasnya. Kami tak bisa membuatnya menjadi cangkul yang bisa digunakan untuk berkebun. Di dalam cangkul itu, kami beranak pinak. Kami menulis sajak pesimis. Kami makan dan minum dari tangis kawan kami sendiri. Mungkinkah cangkul dan kami akan tetap berarti? Sementara kawan-kawanku semakin pandai menyulam asmara purba: Saling menggoda, saling bertanding luka.

Kepala-kepala kami menjadi batu. Batu yang mudah pecah. Kami beradu kepala hingga remuk. Siapa yang bertahan? Kami menodai diri kami sendiri dengan lumpur-lumpur sawah. Kami membunuh kawan kami dengan prilaku dan kata. Pisau adalah alat pencankok kebencian di tubuh kami. Kami seret mayat-mayat itu ke lubang-lubang kepiting dan tong-tong sampah. Kami diam. Kami mensucikan diri dengan menggendong bayi-bayi dan membuka perayaan dengan pidato. Burung-burung gagak berterbangan sambil tersenyum senang sekaligus bengis. Aku diam. Kami menjadi diam. Percakapan justru membungkam. Otak kami mati. Tangan kami hanya menjelajah ruang rahasia. Cangkul tumpul. Tanah mandul.

Tanjung Karang, 2009


Minggu, 18 Januari 2009

Gadis kecil di sudut ranjang

Puisi Agit Yogi Subandi


dengan melihat langit kamar, ia peluk boneka seorang putri
sesekali ia pandangi putri kemudian melihat langit kamar lagi.
ia sedang memajang gambar istana di plafonya
dan perlahan-lahan ia masuk ke istana di langit kamarnya.

sebuah pesta dengan altar yang ditunggui pangeran
pangeran itu memandang dan membungkuk kepadanya.
gadis kecil itu berlari kecil meraih tangan
yang terdapat cincin keagungan silsilah istana.

dalam larinya itu, ada yang datang dan ada yang pergi.
dalam larinya itu, ada yang menoleh dan ada yang tak menoleh.
lalu gadis itu berhenti. tubuh orang-orang terkunci.
hanya mata yang bergerak dan mengarah.

gadis kecil itu tak mengenal dirinya,
kemudian bibirnya mengucap: aku di mana?
di mana ayah-bundaku?
mengapa sebelumnya, ia tak memberitahuku?

suara boneka itu menarik gadis kecil dari langit-langit kamar.
gadis itu jatuh dipelukan boneka.
kemudian boneka itu menatap langit-langit yang samar,
sambil memeluk gadis itu dan membayangkan dirinya:

berjalan dan menggendong tas sekolah.

Kedaton, 2009

Kamis, 15 Januari 2009

Meja Tulis

 
Puisi Agit Yogi Subandi


tubuhnya: sebentang jalan tanpa ruko-ruko
dengan sejumlah kios yang menantang setiap
pejalan untuk menghakimi dirinya.
tak ada deretan lampu yang menyembah
setiap yang lewat di bentangan itu. hanya sebuah lampu
yang tegun menanggapi setiap yang melintas dan berlalu.
peristiwa: orang-orang yang berdiri di balik kabut,
tersorot bulan.

ada tiang lampu dan deretan cerita pendusta
yang menarik-narik kepingan di tubuhmu,
serta lelaki yang mabuk akan gadis dengan jaket beludru,
yang ia ingat punggung dan pinggulnya,
ia tak ingin mengingat namanya, apatah lagi alamat rumah.
ia hanya ingin melukai dirinya dengan ingatan
yang mengkilat seperti pedang-pedang para samurai.
hingga tercecer darah—menetes-netes,
ada serpihan kulit yang membusuk—mengering,
dan rahasia yang tersimpan dan tak dituliskan

ada aku, tersesat!
sambil menuliskan yang berlalu.

2008

Sabtu, 03 Januari 2009

Puisi Agit Yogi Subandi

Di Antara Trotoar dan Pasar

I

“Aku mencari taman: menuliskan peristiwa yang sebentar lagi menghilang di balik wajah-wajah bergegas di trotoar dan jalan berkelok. Kelokan-kelokan yang menyimpan rahasia dan pertapa-pertapa yang lesak dan tertawan oleh dadanya yang hitam. Sekelam tengah malam.”

II

“Make-up ku meleleh di sini. Setiap lelehannya hilang dicuri asap: knalpot kendaraan. Juga jam, curam percakapan, dan bibir kekasihku. Bantu aku mencarinya, hendak kulelehkan pula dibibirmu. Mataku menyimpan restu Bagi birahimu.”

III

“Aku mencari iklan yang menungguku. Sejak kemarin, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi. Tapi belum pernah bertemu. Kata orang, ia belum lahir. Kata orang lagi ia sudah lahir. Tetapi di dalam mimpiku, ia telah terlahir untukku. Wajahnya tersimpan di dadaku. Aku tak mau mengatakannya, sebelum benar-benar bertemu. Tak usah kalian mencarinya. Aku sendiri yang akan mencari:

Di ujung sengat matahari.”

IV

“Tak ada yang mengajakku lagi ke sungai. Manusia mengantri masuk televisi. Dulu, kekasihku sering mengajakku duduk di pinggir sungai. Mencari gigil asmara. Mengenang malka dan jazirah.

Tapi, kini asmaraloka di dalam telepon genggam.
Aku kehilangan diri di tiap jarum jam.”

V

Malam.
Rumah menarik segala titik bunyi dan titik percakapan ke dalam ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur dan dapur-dapur.

VI

Tengah malam.
Jalan menyusun dirinya kembali. Tangannya melempar segala umpat ke jendela-jenela rumah. Lalu ia tidur dengan mata tetap terjaga.

(Tanjung Karang, 2008)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...