Suara dari Masa Lalu


Cerpen Alexander G.B.

Dilansir dari Harian Lampung Post, 13 Januari 2013

SETELAH menikahi Arin, anak pengusaha ternama di kota ini kehidupanku berubah 180 derajat.  Atas saran Arin aku tetap merahasiakan asal usulku pada keluarganya. Namun setiap malam aku tertunduk, dadaku sesak, seperti merasakan sesuatu yang hilang dari diriku. Hampir setiap malam  aku bertanya dan tak kunjung menemukan jawabannya.

Arin dan dua anakku pergi sejak sore tadi ke rumah mertua, silaturahmi dan refleksi keluarga setiap malam tahun baru. Sementara aku terbaring di sofa ruang tamu menunggu sembari menonton televisi.  Apa boleh buat, badanku masih lemas dan menggigil. Mungkin demam lantaran dua hari diterpa hujan atau kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang mesti diselesaikan. Arin mengirim pesan mereka pulang selepas tengah malam.

Detak jam dinding bergema di ruang tamu. Mendengung di telinga. Lalu sepi dan dingin. Aku tercekat. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Daun jendela terombang ambing, tirainya bergoyang, dingin merayap. Jendela terbuka, televisi menyala. Sejenak kusandarkan kepala di sofa. Tiba-tiba ingatan tentang kampung halaman bermekaran.  Terkenang Bapak dan Ibu yang telah 15 tahun kutinggalkan. Kabarnya mereka masih menggarap sawah dan ladang di lereng bukit barisan. Entalah. Lalu seperti ada kabut tipis di ruang tamu. Televisi tiba-tiba tanpa suara. Badanku meringan, melayang, menyaksikan Ulubelu.

***

Aku duduk di ruang tamu. Di hadapanku ada ibu. Ia tampak sehat. Tersenyum, menghidangkan segelas teh hangat untuku.

“Yuli kakakmu sudah dua tahun jadi TKI. Mestinya dia sudah pulang. Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya,” ujar Ibu mengawali perbincangan.

“Ya, berdoa saja agar dia baik-baik saja,” ujarku.

“Seandainya doa bisa menyelesaikan semuanya.” Ia menghela nafas.

“Atun kemana?” tanyaku.

“Atun jaga toko di Padang, kebetulan dapat jodoh dan menetap di sana,” ujarnya diiringi batuk kecil.

“Yanti?”  tanyaku kembali.

“Yanti sudah menikah, sudah punya anak satu. Itu si Panji yang kini menemani ibu. Kalau tidak ada dia pasti rumah ini akan sangat sepi. Tanah di lereng bukit sudah dijual untuk berobat,” ujarnya, nadanya  sedih. 

“Ibu sakit apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu?” tanyaku.

“Darah tinggi. Tapi tidak apa-apa sudah sembuh,” ujar ibu.

Lalu diam sejenak. Setelah sejenak menatapku.

“Duduklah. Setiap hari Ibu mencemaskanmu. Tapi syukur kamu baik-baik saja. Tuhan menjawab doa ibu. Kata Yanti kamu sudah sukses. Nah sekarang Ibu titip adikmu. Kami sudah kepayahan untuk mengarahkannya. Kerjanya di sini mabuk-mabukan dan berkelahi dengan anak-anak kampung sebelah. Karena doyan berkelahi dia tidak diterima kerja di pabrik. Padahal anak itu sesungguhnya baik, sayang dengan keluarga dan mau bekerja keras.” Matanya berkaca-kaca menatap foto adikku yang terpajang di dinding.

“Iya, biar saya yang mencarikan pekerjaan nanti.”

Ibu menggangguk. Membelai rambutku. Hampir sepuluh tahun aku tak pulang. Rambut ibu sudah penuh uban.

“Suara apa rame-rame itu? Kok sepertinya gawat. Coba kamu lihat!” pintanya.

“Bukan apa-apa, itu suara petasan dan kembang api. Nanti malam itu tahun baru Ibu.” Ujarku menenangkan diri. Tiba-tiba ia seperti ingin bangkit. Aku mencegahnya.

“Seperti suara rumah yang terbakar.” Aku mencoba mendengar. Tapi tak terdengar apa-apa. Wajah ibu semakin cemas.

“Tidak ada apa-apa Ibu. Duduklah,” ujarku.

“Tapi ada yang teriak-teriak.” Ibu semakin gelisah.

“Baiklah, ibu duduk saja. Biar kulihat.” Aku pun lekas membuka pintu. Kutengok kanan dan kiri.  Tak ada apa-apa. Tak ada anak-anak yang menyalakan petasan seperti yang kuduga. Aku terus melangkah, melewati halaman. Lalu bergegas ke jalan. Kakiku kian menjauh dari rumah.

Tiba-tiba semua tampak memerah. Api menyala di mana-mana. Aku terkejut. mengapa tadi aku tak melihat atau mendengar apa pun? Dalam waktu sekejap kampung ini berubah. Aku menyaksikan orang-orang memakai topeng membakar sekolah dan rumah-rumah. Aku berteriak. Mereka mengacuhkan teriakanku. Aku ingat Bapak dan Ibu. Aku lekas berbalik arah. Tapi tidak tampak jalan yang tadi kulewati.
Orang-orang bertopeng berkelebat. Bapak dan para tetangga mengejarnya. Sepintas aku melihat anak kecil menangisi bapak ibunya yang terbakar. Aku ingin menggendong dan membawanya menjauh dari kobaran api. Tapi ia malah takut dan berlari, kemudian terbakar.

Aku membalikkan badan, berhadapan dengan orang-orang kampung, aku mengenalinya beberapa diantara mereka adalah teman sekolahku dulu. Tapi sepertinya tak ada lagi yang mengenaliku. Wajah mereka berubah buas. Matanya menyala seperti anjing-anjing geladak. Lalu mereka berlalu, mengikuti Bapak yang berlari membawa golok dan cangkul memburu orang-orang bertopeng.  Ada yang membawa parang, bambu atau kayu sebesar lengan orang dewasa. Mereka berteriak, berlarian.  Aku mendengar jerit orang-orang yang dipukuli dan terbakar.

Oh, itu Ibu. Ia  menampi beras dalam kobaran api. Aku mencoba memanggilnya. Tapi ia tetap menampi beras. Wajahnya hambar, air matanya menetes dan menjadi butiran-butiran beras yang ia tampi. Aku berteriak, memanggilnya berkali-kali. Tapi sia-sia.

Lalu ibu menghilang dalam kobaran api. Berganti dengan rombongan bertopeng seperti ninja, mereka membawa obor dan kembali membakar apa saja. Rumah, ladang jagung, kandang ternak, belukar, hutan bambu di sepanjang bukit barisan.  Masjid dan mushola ikut terbakar.  Orang-orang bertopeng terus berlari, jumlahnya semakin bertambah banyak.  Bapak dan tetangga terlibat perkelahian. Sementara api terus menjalar di sekelilingnya. Jerit mahluk-mahluk yang terbakar. Aku mencoba melompati kobaran api. Tapi terpental seperti ada dinding yang menghalangi. Aku melihat bapak yang terbakar tetapi tetap mengayunkan parangnya dengan kesetanan, tetangga yang lain melakukan hal yang sama. Kenapa bapak berubah buas?
Setelah menghabisi semua warga desa, orang-orang bertopeng membalikkan badan dan menatapku. 

Mereka mendekat.  Pakaian mereka seperti aku kenal. Mereka pegawai …..  Ah, gagal mengingatnya. Mereka makin dekat,  tinggal sepuluh langkah di depanku. Kerumunan orang itu membuka topengnya.
Wajah mereka berubah anjing geladak, menyeringai. Kulihat  air liurnya yang menetes-netes. Gigi dan taringnya berkilatan. Mereka bersiap untuk menerkamku. Aku terus mundur…. mereka mengpung dan menerkamku. Aku berteriak ketakutan, tak ada suara keluar, tubuhku tak bisa bergerak. mataku terpejam... dan... Gelap. Seperti ada suara tembakan. Seperti ada suara pintu yang terbuka.

***

Aku mengangkat wajahku, ada pijar kembang api, disusul suara petasan. kulihat langit bertuliskan; HAPPY  NEW YEARS.. Aku mencoba menajamkan pandangan dan mencoba bangkit. Tiba-tiba sudah ada sosok Arin dekat sofa, ada Dodi dan Sindy, dua anakku yang masih menggenggam terompet. Lalu mereka menyerbu, memelukku yang masih bersimbah keringat, dan terengah-engah.

Happy New Years, Ayah

Suara terompet tahun baru. Lalu memberiku pelukan.  “Ada kabar gembira. Ayah memberitahu setelah tiga tahun, besok perusahaannya resmi dioperasikan. Tahu tidak tempatnya? Di Ulubelu, itu kampung Ayah bukan? Sekalian pulang kampung, jangan lupa ajak aku menghadap bapak dan ibu. Diam-diam saja, jangan sampai ayah dan keluarga lain mengetahuinya,” ujar Arin dengan lembut. Aku mengangguk.

“Akhirnya kamu pulang Ton.  Duduklah. Tiga tahun lalu rumah kita dipaksa pindah. Rumah kita kena gusur. Itu tanahnya yang dipakai area pabrik. Ia keras kepala, ia menolak pindah sebelum kamu bisa dihubungi. Tapi petugas-petugas itu memaksa, Tomo marah melihat petugas memaksa ibu. Ia mati melawan petugas-petugas itu. Ibu tak bisa menerima kehilangan Tomo, ia pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Sebulan kemudian bapak menyusul.  Kami kesulitan untuk menghubungimu. Syukurlah akhirnya kamu datang sendiri.” ujar Yanti.

Ia tersenyum. Beberapa butir air terjatuh dari dua matanya.  


Bandar Lampung, 31 Desember 2012

Comments

Popular Posts