Translate

Rabu, 30 Januari 2013

KAMPUNG KECUBUNG

Cerpen Yulizar Fadli

dilansir dari koran Lampung Post, Minggu, 13 November 2011

Bulan benjol. Awan berkerumun di bawahnya. Perempuan kurus berwajah tirus itu terus dibuntuti bocah-bocah berseragam putih- merah sampai ke muka pasar. Ejekan bocah-bocah akan berhenti jika perempuan itu sudah benar-benar masuk ke dalam pasar. Perempuan gila yang suka telanjang di tengah pasar. Kadang minta makan, kadang minta dibuatkan es cendol, kadang mengamuk, kadang tidur, dan kadang hanya duduk melamun seperti karung. Tapi para pedagang dan pembeli sudahlah mahfum tentang penyebab utama mengapa perempuan itu menjadi gila.

***

 Mereka berempat berkumpul di warung remang-remang milik Mbak Minuk; Yariman, Puguh, Otong, dan Upik. Mereka minum sampai mabuk. Sudah secerek tuak mereka tandaskan. Tiba-tiba ide nakal terbersit di otak Upik. Perlahan ia mengeluarkan sebotol minuman mirip teh. Sementara Otong, Yariman, dan Puguh, tengah asik menikmati lagu dangdut kesayangan mereka. Selain Upik, tak ada yang tahu apa nama minuman itu. Pokoknya, racikannya adalah biji tumbuhan berbahaya yang tumbuh liar di hampir seluruh kampung. Tak ada juga yang tahu bahwa sebenarnya Upik cemburu dengan Yariman.

Persaingan cinta tak sehat antar remaja kampung pun terjadi. Tak terasa, satu botol telah Yariman habiskan. Upik mengeluarkan botol kedua. Alunan musik dangdut itu membuat kepala mereka bertambah berat. Perlahan, tubuh dan kaki Yariman lemas, seolah tanpa tulang sum-sum. Pandangannya buyar. Yariman pingsan. Upik menyeringai. Puguh, sebagai sahabat karib Yariman, menjadi gusar dan khawatir. Dalam keadaan tak sadar, Puguh membonceng Yariman pulang dengan motor bututnya, kemudian meninggalkannya di depan teras rumah begitu saja, seolah Yariman bangkai kucing yang ia buang di pinggir jalan.

***

Pagi mekar di kampung Taman Sari. Kepak kawanan perenjak mulai sibuk mencari makan, terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Sementara, di puluhan rumah berdinding papan, muncul para petani dengan segala macam alat pertanian.

Dari belasan rumah lain, orang-orang mulai keluar membawa barang dagangan untuk dibawa ke pasar. Anak-anak berangkat sekolah dan memenuhi jalanan beraspal kasar. Ada yang berjalan, ada juga yang bersepeda.

Tapi sesungguhnya, tak semua rumah penduduknya berdinding papan, sebab di sana, di antara kerumun rumah papan, ada satu rumah bagus bertingkat dua. Dari rumah itulah muncul seorang perempuan berusia 26 tahun. Dia berlari-lari, seolah ada yang hendak diburunya. Perempuan itu terus berlari menuju sebuah rumah papan yang berjarak tigaratus meter dari tempat ia keluar. Selang beberapa belas menit, ia sampai di tempat tujuan. Pukul tujuh pagi ketika itu.

“Kulonuwon,” ucapan salam berulang tiga kali. Yang memberi salam mulai resah karena tak ada jawaban dari pemilik rumah. Sembari menunggu, tak sengaja kakinya menginjak seekor cacing tanah yang berjalan pelan menuju lubang. Ketika sahutan terdengar dari dalam rumah, senyum tipis tergambar di wajahnya.

”Monggo,” suara lelaki tua itu tertahan di kerongkongan. “Ada apa Tik, pagi-pagi kok datang kemari?”

“Anu, Mbah. Anaknya Robayah kesurupan.”

“Ladalah, ayo kalau begitu,” setelah menjawab, lelaki tua itu kembali masuk rumah, mengambil plastik berisi tembakau. Buru-buru ia mengunci pintu lalu berjalan bersama perempuan yang menyusulnya.

Berdua menyusuri jalan kecil, melewati rumah papan, juga varian pohon dan tanaman; waru, sengon, bambu, dan kecubung. Di bawah pohon rimbun dan rindang, tersua puluhan gunduk tanah yang berpatok dan bernisan. Enam di antaranya adalah makam pahlawan yang gugur dalam perang tahun 1948. Tapi keenamya telah di pindahkan ke Metro. Jaraknya 50 km dari kampung itu.

Hampir tak sadar ketika melewati pemakaman, Atik mengangkat jaritnya, berjingkat, dan melompat ke samping. Tangan kanannya menutup mulut sehingga jeritannya terdengar kecil, seekor ular tanah baru saja melintas di depannya. Mbah Sobari buru-buru mengusirnya. Lelaki tua itu menepuk-nepuk bahu Atik, lalu memberi tahu bahwa ular tersebut sudah pergi. Kata-kata Mbah Sobari mengambang di udara bersama kerik jangkrik, samar desis ular, dan kicau kepodang.

Dalam gesa, tak jauh dari makam pahlawan, keduanya sampai di sebuah jembatan. Jembatan Pahlawan, begitu penduduk menyebutnya.

***

Di dalam rumah bagus bertingkat dua, Robayah, janda paling kaya di kampung Taman Sari, duduk termangu di bibir ranjang sembari memijit-mijit kepalanya yang mulai pening. Sementara, di sampingnya, putra tercinta sedang terbaring tak sadarkan diri. Perempuan paruh baya itu dikelilingi tiga pembantu setia.

“Kok Atik lama sekali, ya?”

“Sabar, Bu. Sebentar lagi juga sampai,” sahut Sakiyem menenangkan majikannya.

“Coba kamu susul, Di. Aku takut terjadi apa-apa dengan dia,” pinta Robayah kepada Juardi karena anaknya terbangun dan berteriak-teriak tak keruan.

Pemuda itu mulai melantur. Badannya terasa gerah. Ia minta agar pakaiannya dilepaskan. Berangsur-angsur kesadarannya hilang. Ia mulai berhalusinasi. Dalam halusinasinya ia melihat beberapa anak kecil berkepala botak sedang bercanda di atas lemari kamarnya, juga kelebat puluhan peri yang terbang kesana kemari sembari mengayun-ayunkan tongkat ajaib yang ujungnya berbentuk bintang. Tapi tiba-tiba halusinasinya buyar ketika kepalanya serasa membesar. Mungkin akan meledak. Robayah dan ketiga pembantunya mulai kewalahan menghadapi tingkah-polah Yariman. Tapi untunglah, di tengah ketegangan itu, Atik dan Mbah Sobari segera datang.

“Duh Gusti, akhirnya sampean datang juga,”sambut Robayah seraya memegangi anaknya yang meronta.

“Iya, Nduk. Pegang kuat kaki dan tangannya, jangan sampai lepas.” sahut lelaki tua itu tanpa basa-basi. Tampaknya Mbah Sobari tahu apa yang harus ia lakukan.

“Tolong ambilkan segelas air putih.” Mbah Sobari mulai beraksi. Ia menempelkan telapak tangan kirinya ke jidat pemuda itu, lalu perlahan pindah memegang kepalanya. Mulutnya komat-kamit, kemudian tersembur air dari mulutnya. Dua kali semburan itu mengenai muka si pemuda. Lalu, si empunya mantera menepuk-nepuk pipi pasiennya seraya bertanya, “Sadar, Le. Kamu kenal aku, toh?”

Mendengar pertanyaan itu, sontak ibunya membisikkan sesuatu. Mungkin ingin memberi tahu siapa nama orang yang menanyainya. Tak lama setelah Robayah berbisik ke telinga anaknya, jawaban terdengar juga dari mulut pemuda yang sejak semalam kehilangan kesadarannya. Matanya setengah terbuka, serupa pintu dan jendela di kamar tidurnya.

“Kamu manusia planet, toh?” jawab pemuda itu. Mbah Sobari terkejut bukan main.

“Yah, siapa nama lengkap anakmu? Bin siapa dia?” pertanyaan itu ditujukan kepada Robayah

“Yariman bin Yatman Kasrowi,” sahut Robayah.

Si Mbah kembali komat-kamit. Setengah jam ketegangan berlangsung. Mantera si Mbah mengambang di udara, kemudian perlahan terbang dibawa angin, ke atap rumah lalu ke atas genting. Bisa saja, mantera yang hanya diketahui Mbah Sobari itu terekam oleh kawanan burung gereja yang tengah berkicau, melompat, dan terbang dari satu genting ke genting lainnya.

Dari bawah atap rumah, di kamar yang lebar, Mbah Sobari menarik sebuah kesimpulan. Saat itu Yariman tertidur karena pengaruh mantera. Tubuhnya terkulai lemas. Pemuda itu bertelanjang dada. Ia mengenakan celana berwarna coklat yang secoklat kulitnya.

Tapi sebelum mengutarakan kesimpulannya, si Mbah minta izin beristirahat sepenak. Ia memungut plastik berisi tembakau, cengkih, kemenyan, dan papir, untuk kemudian digulung membentuk kerucut kecil memanjang. Sesaat dari balik pintu kamar, Sakiyem membawa segelas kopi, kemudian menaruhnya di atas meja kecil dekat Mbah Sobari duduk. Si Mbah menoleh ke arah Sakiyem, mengangguk ringan dan tersenyum, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke kantung plastik yang sedang ia gamit. Ia kemudian memungut korek kaleng berwarna biru. Pelan-pelan jempol rentanya memantik korek api. Empat kali sudah ia memantik koreknya, namum tak juga hidup.

Di depan Mbah Sobari, Juardi menyodorkan nyala api dari korek kepunyaannya. Si Mbah sedikit kaget, ia merasa detak jantungnya berdenyut cepat. Beberapa saat ketika kesadarannya pulih, ia tersenyum datar, lalu menyodorkan rokok yang telah dikatupkan di kedua bibirnya yang keriput ke arah nyala korek api. Pipinya terlihat kempot ketika berusaha menyalakan rokok. Tak lama setelah rokoknya hidup, Mbah Sobari memejamkan mata. Suara beratnya tertahan di kerongkongan.   

“Cah bagus ini nggak kesurupan, tapi keracunan kecubung.” ujar Mbah Sobari pasti. Bibir kerut-merut itu kembali mengisap lintingan tembakau.

Sepersekian detik Robayah dan keempat pembantunya bengong, terlebih Juardi.

“Jadi bagaimana, Mbah?”

“Kasih dia tempe goreng, tapi nggak usah dikasih bumbu, lalu buatkan segelas kopi pahit.”

***

Ya, itulah nama alias kampung Taman Sari; Kampung Kecubung. Sebuah kampung peninggalan pemerintahan orde lama. Awalnya kampung itu masih termasuk Kabupaten Lampung Tengah. Tapi karena pemekaran, saat itu pemerintahan orde baru yang tengah berkuasa, kabupaten itu berubah nama menjadi Lampung Timur. Mbah Sobari sering bertutur tentang awal mula julukan kampung itu: Tanaman kecubung memang tumbuh subur di Taman Sari. Itulah mengapa Taman Sari di sebut kampung Kecubung. Pada jaman penjajahan dulu, tanaman itu digunakan untuk meracuni kompeni. Tapi sekarang, kecubung di salah gunakan. Tak sedikit warga yang keracunan, gila, bahkan meninggal karena meminumnya terlalu banyak.”

***

Atas perintah Nyonya rumah, Sakiyem bergegas ke pasar mencari tempe. Sepeda jengki dikeluarkan, dikayuhnya menuju pasar becek di kampung itu. Ia mengayuh sekuat tenaga. Beberapa menit ketika sampai di tengah pasar, perempuan itu menatap berkeliling, mencari sosok tambun Lek Wasbir. Bukan Lek Wasbir yang dia lihat, tapi Suratmi yang tengah tertidur pulas di samping warung Makmun. Sakiyem hanya menggelengkan kepala.

 Beberapa saat Sakiyem mengalihkan pandangan. “Nah itu dia orangnya,” batin Sakiyem membatin. Setelah wajah Wasbir terlihat di antara kerumun orang, Sakyiem mendekat dan langsung membeli beberapa tempe. Setelah selesai, ia bergegas pulang ke rumah. Sekilas pandang dalam perjalanan pulang, mata Sakiyem menatap langit. Ia melihat kawanan awan perlahan menghitam.

Akhirnya Sakiyem sampai. Dengan segera ia menyandarkan sepeda, lalu masuk lewat pintu belakang. Segera pula ia melucuti plastik pembungkus tempe, menghidupkan kompor, kemudian menaruh wajan berisi minyak di atasnya. Setelah minyak itu panas, ia langsung menggorengnya. Tak berlama-lama ia menggoreng.

 Waktu dia mengangkat tempe goreng itu, ada yang memanggilnya dari balik sekat yang memisahkan ruang dapur dan ruang makan. Rupanya suara Atik, ia sedang menyeduh kopi pahit. Setelah selesai menggoreng tempe, Sakiyem lalu menghampiri Atik. Sakiyem bercerita pada Atik tentang Mbah Sobari dan Suratmi. Hap... dan dalam hitungan menit semuanya siap, mereka segera membawa kopi dan tempe itu ke dalam kamar.

Ketika Sakiyem dan Atik sampai di kamar, Mbah Sobari sudah tak ada. Ia diantar pulang oleh Juardi. Tapi sebelum mbah sakti itu pergi, lebih dulu ia membuat Yariman siuman. Pemuda itu setengah sadar. Robayah menyuapkan tempe goreng ke mulutnya, kemudian meminumkan kopi itu dengan sendok. Tiga tempe dan beberapa sendok kopi pahit masuk ke perut pemuda itu. Yariman mulai merasakan reaksinya. Penawar racun kecubung versi Mbah Sobari membuat perutnya mual, lalu muntah. Dua hari kemudian Yariman sadar.

****

Suatu pagi, tiga hari setelah kejadian Yariman, di atap genting rumah Mbah Sobari, sekawanan burung gereja mematuk dan menari riang. Pada saat yang hampir bersamaan, dari arah pintu depan, terdengar ucapan salam yang dibarengi dengan ketukan. Si Mbah kemudian keluar. Kata-kata si tamu bernada khawatir. Ia berkata bahwa Sutilah, perempuan yang ditinggal mati suaminya dua tahun lalu, nekat minum kecubung lantaran tak mampu bayar hutang. Perempuan itu berkeliaran di tengah pasar tanpa pakaian. Mbah Sobari menghela nafasnya dalam-dalam. Dia tahu, jika ada orang keracunan kecubung, dan kemudian orang tersebut masuk pasar, akan sukar disembuhkan. Pasti gila. Persis seperti Suratmi, anak semata wayang sendiri.

   
Bandarlampung, Oktober-November, 2010.




Minggu, 27 Januari 2013

Identitas


Mengetahui, memiliki identitas lengkap tentang bangsa sendiri, adalah sebuah proses untuk memahami diri sebagai masyarakat, juga sebagai individu di dalam masyarakat. Tapi dari hal semacam ini pula, kehendak untuk berkoloni semakin menjadi. Mengapa? Karena dalam pemahaman itu, akan diketahui kekurangan dan kelebihan. Dalam pemahaman ini, kata 'eksplorasi' menjadi penting dan menjadi suatu tolak ukur keberhasilan sebuah pencarian atau menemukan. Ini yang disebut Friedrich Scleiermacher, bagian-bagian yang akan membentuk keseluruhan atau dalam istilahnya, "bersifat komparatif (keseluruhan) dan divinatorik(devide=pembagian)."

Jerman, pada perang dunia ke II, berusaha mencapai koloni secara perbagian. Jerman melakukan ini bukannya hanya sebagai bentuk 'kehendak menguasai' seperti yang di katakan Friedrich Nietzsche, tapi juga sebuah pernyataan kebudayaan dari perwakilan ras arya Jerman, yang diwakili oleh Hitler. Benar saja, dengan adanya pembersihan ras selain ras arya itu, ras-ras lain seperti tertindas dan kehilangan kebebasannya. Akibatnya adalah, nasionalisme. fanatisme. dan lain-lain.

Lihat saja perlakuan si Fuhrer Jerman itu terhadap kaum Yahudi. Semua yang berbau Yahudi, diberi tanda, dan dilarang makan di tempat umum, atau berjalan di trotoar. Saya yakin, bahwa apa yang dikehendaki oleh Hitler, punya maksud baik, yaitu, mensterilisasi budaya Jerman dari kebudayaan asing, atau juga dapat dikatakan, orasi kebudayaan besar-besaran. 

Di sinilah letak pertentangannya, ketika kehendak berkuasa itu dicapai dengan cara-cara yang arogan, seperti Hitler yang Fasis, dan kebebasan seperti barang yang mahal. Dan akhirnya, setiap hari, kita disuguhkan sebuah tontonan yang menyibukan kita untuk menebak-nebak, "siapa menguasai siapa." lantas beberapa orang merasa bosan. Beberapa orang akan menjadi apatis. Beberapa orang merasa muak dengan kebaikan. Dan beberapa orang diam saja, atau pura-pura berbahagia, di ruang-ruang karaoke, yang tak memberi kesempatan kita--meminjam kata penyair India, Rabindranath Tagore--berbicara dan mendengar dengan hati. Di kondisi itu, kita patut bertanya, dalam nada yang sama seperti dilantunkan Louis Armstrong, 'what a wonderful world?'

Dalam perspektif teknik keaktoran yang dikembangkan Stanislavski, fiksi menjadi penting dalam membangun karakter sebuah tokoh. Karena, acting yang dimunculkan akan menjadi alami, dan otentik. Sebagai contoh, Hitler tidak akan mungkin mampu menggerakkan seluruh rakyat Jerman, untuk mendukung segala cita-citanya, tanpa ada fiksi yang jelas di dalam kepalanya. Fiksi, adalah kisah, identitas, gambaran, data-data, bahkan sejarah. Tubuh, sebagai wadah, meladeni hal itu. Begitu juga dalam hal yang sentimentil seperti misalnya, asmara.

Dan kini, kita hidup dalam hal-hal tersebut. Tanpa kita sadari, Indonesia juga berdiri dari fiksi Sukarno terhadap identitas Indonesia itu sendiri, yang didesain sedemikian rupa, dicari sandaran-sandarannya, dan akhirnya dorongan batin yang kuat, membuat dia berkata, "Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.." Sebaiknya kita memang patut mempertanyakan tentang identitas kita, bangsa kita, dan Indonesia.

Sabtu, 19 Januari 2013

Suara dari Masa Lalu


Cerpen Alexander G.B.

Dilansir dari Harian Lampung Post, 13 Januari 2013

SETELAH menikahi Arin, anak pengusaha ternama di kota ini kehidupanku berubah 180 derajat.  Atas saran Arin aku tetap merahasiakan asal usulku pada keluarganya. Namun setiap malam aku tertunduk, dadaku sesak, seperti merasakan sesuatu yang hilang dari diriku. Hampir setiap malam  aku bertanya dan tak kunjung menemukan jawabannya.

Arin dan dua anakku pergi sejak sore tadi ke rumah mertua, silaturahmi dan refleksi keluarga setiap malam tahun baru. Sementara aku terbaring di sofa ruang tamu menunggu sembari menonton televisi.  Apa boleh buat, badanku masih lemas dan menggigil. Mungkin demam lantaran dua hari diterpa hujan atau kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang mesti diselesaikan. Arin mengirim pesan mereka pulang selepas tengah malam.

Detak jam dinding bergema di ruang tamu. Mendengung di telinga. Lalu sepi dan dingin. Aku tercekat. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Daun jendela terombang ambing, tirainya bergoyang, dingin merayap. Jendela terbuka, televisi menyala. Sejenak kusandarkan kepala di sofa. Tiba-tiba ingatan tentang kampung halaman bermekaran.  Terkenang Bapak dan Ibu yang telah 15 tahun kutinggalkan. Kabarnya mereka masih menggarap sawah dan ladang di lereng bukit barisan. Entalah. Lalu seperti ada kabut tipis di ruang tamu. Televisi tiba-tiba tanpa suara. Badanku meringan, melayang, menyaksikan Ulubelu.

***

Aku duduk di ruang tamu. Di hadapanku ada ibu. Ia tampak sehat. Tersenyum, menghidangkan segelas teh hangat untuku.

“Yuli kakakmu sudah dua tahun jadi TKI. Mestinya dia sudah pulang. Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya,” ujar Ibu mengawali perbincangan.

“Ya, berdoa saja agar dia baik-baik saja,” ujarku.

“Seandainya doa bisa menyelesaikan semuanya.” Ia menghela nafas.

“Atun kemana?” tanyaku.

“Atun jaga toko di Padang, kebetulan dapat jodoh dan menetap di sana,” ujarnya diiringi batuk kecil.

“Yanti?”  tanyaku kembali.

“Yanti sudah menikah, sudah punya anak satu. Itu si Panji yang kini menemani ibu. Kalau tidak ada dia pasti rumah ini akan sangat sepi. Tanah di lereng bukit sudah dijual untuk berobat,” ujarnya, nadanya  sedih. 

“Ibu sakit apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu?” tanyaku.

“Darah tinggi. Tapi tidak apa-apa sudah sembuh,” ujar ibu.

Lalu diam sejenak. Setelah sejenak menatapku.

“Duduklah. Setiap hari Ibu mencemaskanmu. Tapi syukur kamu baik-baik saja. Tuhan menjawab doa ibu. Kata Yanti kamu sudah sukses. Nah sekarang Ibu titip adikmu. Kami sudah kepayahan untuk mengarahkannya. Kerjanya di sini mabuk-mabukan dan berkelahi dengan anak-anak kampung sebelah. Karena doyan berkelahi dia tidak diterima kerja di pabrik. Padahal anak itu sesungguhnya baik, sayang dengan keluarga dan mau bekerja keras.” Matanya berkaca-kaca menatap foto adikku yang terpajang di dinding.

“Iya, biar saya yang mencarikan pekerjaan nanti.”

Ibu menggangguk. Membelai rambutku. Hampir sepuluh tahun aku tak pulang. Rambut ibu sudah penuh uban.

“Suara apa rame-rame itu? Kok sepertinya gawat. Coba kamu lihat!” pintanya.

“Bukan apa-apa, itu suara petasan dan kembang api. Nanti malam itu tahun baru Ibu.” Ujarku menenangkan diri. Tiba-tiba ia seperti ingin bangkit. Aku mencegahnya.

“Seperti suara rumah yang terbakar.” Aku mencoba mendengar. Tapi tak terdengar apa-apa. Wajah ibu semakin cemas.

“Tidak ada apa-apa Ibu. Duduklah,” ujarku.

“Tapi ada yang teriak-teriak.” Ibu semakin gelisah.

“Baiklah, ibu duduk saja. Biar kulihat.” Aku pun lekas membuka pintu. Kutengok kanan dan kiri.  Tak ada apa-apa. Tak ada anak-anak yang menyalakan petasan seperti yang kuduga. Aku terus melangkah, melewati halaman. Lalu bergegas ke jalan. Kakiku kian menjauh dari rumah.

Tiba-tiba semua tampak memerah. Api menyala di mana-mana. Aku terkejut. mengapa tadi aku tak melihat atau mendengar apa pun? Dalam waktu sekejap kampung ini berubah. Aku menyaksikan orang-orang memakai topeng membakar sekolah dan rumah-rumah. Aku berteriak. Mereka mengacuhkan teriakanku. Aku ingat Bapak dan Ibu. Aku lekas berbalik arah. Tapi tidak tampak jalan yang tadi kulewati.
Orang-orang bertopeng berkelebat. Bapak dan para tetangga mengejarnya. Sepintas aku melihat anak kecil menangisi bapak ibunya yang terbakar. Aku ingin menggendong dan membawanya menjauh dari kobaran api. Tapi ia malah takut dan berlari, kemudian terbakar.

Aku membalikkan badan, berhadapan dengan orang-orang kampung, aku mengenalinya beberapa diantara mereka adalah teman sekolahku dulu. Tapi sepertinya tak ada lagi yang mengenaliku. Wajah mereka berubah buas. Matanya menyala seperti anjing-anjing geladak. Lalu mereka berlalu, mengikuti Bapak yang berlari membawa golok dan cangkul memburu orang-orang bertopeng.  Ada yang membawa parang, bambu atau kayu sebesar lengan orang dewasa. Mereka berteriak, berlarian.  Aku mendengar jerit orang-orang yang dipukuli dan terbakar.

Oh, itu Ibu. Ia  menampi beras dalam kobaran api. Aku mencoba memanggilnya. Tapi ia tetap menampi beras. Wajahnya hambar, air matanya menetes dan menjadi butiran-butiran beras yang ia tampi. Aku berteriak, memanggilnya berkali-kali. Tapi sia-sia.

Lalu ibu menghilang dalam kobaran api. Berganti dengan rombongan bertopeng seperti ninja, mereka membawa obor dan kembali membakar apa saja. Rumah, ladang jagung, kandang ternak, belukar, hutan bambu di sepanjang bukit barisan.  Masjid dan mushola ikut terbakar.  Orang-orang bertopeng terus berlari, jumlahnya semakin bertambah banyak.  Bapak dan tetangga terlibat perkelahian. Sementara api terus menjalar di sekelilingnya. Jerit mahluk-mahluk yang terbakar. Aku mencoba melompati kobaran api. Tapi terpental seperti ada dinding yang menghalangi. Aku melihat bapak yang terbakar tetapi tetap mengayunkan parangnya dengan kesetanan, tetangga yang lain melakukan hal yang sama. Kenapa bapak berubah buas?
Setelah menghabisi semua warga desa, orang-orang bertopeng membalikkan badan dan menatapku. 

Mereka mendekat.  Pakaian mereka seperti aku kenal. Mereka pegawai …..  Ah, gagal mengingatnya. Mereka makin dekat,  tinggal sepuluh langkah di depanku. Kerumunan orang itu membuka topengnya.
Wajah mereka berubah anjing geladak, menyeringai. Kulihat  air liurnya yang menetes-netes. Gigi dan taringnya berkilatan. Mereka bersiap untuk menerkamku. Aku terus mundur…. mereka mengpung dan menerkamku. Aku berteriak ketakutan, tak ada suara keluar, tubuhku tak bisa bergerak. mataku terpejam... dan... Gelap. Seperti ada suara tembakan. Seperti ada suara pintu yang terbuka.

***

Aku mengangkat wajahku, ada pijar kembang api, disusul suara petasan. kulihat langit bertuliskan; HAPPY  NEW YEARS.. Aku mencoba menajamkan pandangan dan mencoba bangkit. Tiba-tiba sudah ada sosok Arin dekat sofa, ada Dodi dan Sindy, dua anakku yang masih menggenggam terompet. Lalu mereka menyerbu, memelukku yang masih bersimbah keringat, dan terengah-engah.

Happy New Years, Ayah

Suara terompet tahun baru. Lalu memberiku pelukan.  “Ada kabar gembira. Ayah memberitahu setelah tiga tahun, besok perusahaannya resmi dioperasikan. Tahu tidak tempatnya? Di Ulubelu, itu kampung Ayah bukan? Sekalian pulang kampung, jangan lupa ajak aku menghadap bapak dan ibu. Diam-diam saja, jangan sampai ayah dan keluarga lain mengetahuinya,” ujar Arin dengan lembut. Aku mengangguk.

“Akhirnya kamu pulang Ton.  Duduklah. Tiga tahun lalu rumah kita dipaksa pindah. Rumah kita kena gusur. Itu tanahnya yang dipakai area pabrik. Ia keras kepala, ia menolak pindah sebelum kamu bisa dihubungi. Tapi petugas-petugas itu memaksa, Tomo marah melihat petugas memaksa ibu. Ia mati melawan petugas-petugas itu. Ibu tak bisa menerima kehilangan Tomo, ia pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Sebulan kemudian bapak menyusul.  Kami kesulitan untuk menghubungimu. Syukurlah akhirnya kamu datang sendiri.” ujar Yanti.

Ia tersenyum. Beberapa butir air terjatuh dari dua matanya.  


Bandar Lampung, 31 Desember 2012

Rabu, 02 Januari 2013

Selintas Mengenai Anglo Saxon


Dalam mempelajari hukum atau mempelajari disiplin ilmu-ilmu lain, tak lepas dari yang namanya bahasa-bahasa khusus atau istilah untuk mempersempit sebuah pengertian sehingga ia mudah untuk disebutkan. Seperti misalnya istilah: hukum normatif, hukum positif, norma dan lain sebagainya. Mungkin kurangnya pengetahuan tentang istilah-istilah tersebut membuat kita sulit sekali menerima informasi yang terkandung di dalam sebuah buku pelajaran hukum, misalnya. Jadi menurut saya mempelajari setiap istilah menjadi sangat penting untuk memahami informasi yang kita terima dari buku sebuah disiplin ilmu.

Kali ini saya akan sedikit merentangkan istilah Anglo Saxon. menurut saya ini menjadi penting karena ia menyangkut salah satu sistem hukum di dunia. Apa itu sistem hukum dunia? menurut situs Wikipedia, Sistem hukum dunia adalah kesatuan/keseluruhan kaedah hukum yang berlaku di negara-negara/ daerah di dunia. Sistem hukum yang ada di dunia pada masa kini terdiri dari:

  1. Hukum sipil
  2. Sistem hukum Anglo Saxon atau dikenal juga dengan Common Law.
  3. Hukum agama
  4. Hukum adat
  5. Hukum negara blok timur (Sosialis)

Masing-masing negara mengembangkan variasinya sendiri dari masing-masing sistem atau memadukan banyak aspek lainnya ke dalam sistemnya.

Menurut situs WikipediaAnglo-Saxon adalah negara-negara maritim kepulauan yang terletak di Eropa. Negara mana saja yang masuk ke dalamnya? di sana disebutkan negara-negara maritim yang terletak di eropa. Negaranya adalah  Inggris, Irlandia, Amerika Serikat dan Australia. Dan Anglo Saxon ini biasa juga disebut eropa kontinental.

lantas apa hubungannya dengan istilah Common Law yang tertera di sistem hukum no 2, di atas. Common Law itu dapat juga disebut dengan Hukum umum atau hukum kasus (case law), atau preseden (precedent), adalah hukum yang dibangun oleh para juri melalui putusan-putusan pengadilan dan tribunal yang serupa, sebagai kebalikan dari hukum statuta yang diterima melalui proses legislasi atau peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga eksekutif. dan Sistem hukum Common law membentuk bagian utama dari hukum banyak negara, terutama di negara-negara yang merupakan bekas koloni atau wilayah dari Britania. Dia terkenal karena terdapat hukum tidak tertulis (non-statutory) yang luas mencerminkan sebuah konsensus penghakiman dengan sejarah berabad-abad oleh para juris.

jadi jelaslah istilah keduanya, Anglo Saxon adalah nama perkumpulan dari negara eropa maritim sementara Common Law adalah Bentuk Hukum yang berlaku atau dijalankan di negara-negara maritim tersebut. mudah-mudahan dapat menambah informasi.

Senarai Pustaka:


  • http://id.wikipedia.org
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...