Translate

Rabu, 19 November 2008

Sastra dalam Abad Milenium di Indonesia


Oleh:
Agit Yogi Subandi


Di abad milenium ini, setiap hari dapat kita saksikan kesibukan demi kesibukan di setiap kota. Dari jalanan yang begitu padat dengan kendaraan lalu-lalang, orang-orang seperti dikejar-kejar waktu, hingga janji yang belum juga ditepati atau apa saja yang sifatnya terburu-buru dan dikejar waktu. Belum lagi iklan dan toko-toko menawarkan segala barang kebutuhan hidup yang mudah dan cepat saji membuat kita semakin memandang hidup dengan mudah.

Sesungguhnya sastra sastra sangat penting, apalagi di dunia yang serba cepat dan instan seperti sekarang ini ditambah lagi daya konsumtif yang berlebihan serta kurang menyatunya kita dengan alam membuat manusia semakin tak manusia. Manusia telah menjelma robot yang geraknya telah terprogram. Saya sepakat dengan Iswadi Pratama penyair dari Lampung yang dalam sebuah acara kesenian mengatakan bahwa sastra seperti halnya puisi, cerpen, dan novel mengingatkan kita pada hal-hal yang biasa; misalnya laut, taman, jalan, dan keheningan yang (mungkin) tak terpikirkan lagi oleh manusia pada umumnya karena telah diserbu oleh iklan-iklan yang hendak memudahkan hidup mereka. di sinilah peran sastra yang sesungguhnya: mengembalikan sesuatu yang dianggap tidak meng”ibu” lagi dalam tubuh kita. Saya sendiri merasa, dalam kehidupan sehari-hari, kita begitu dekat dengan yang namanya kendaraan baik itu motor atau mobil telah menyeret saya untuk melupakan jalan setapak di kebun-kebun, di taman-taman dan trotoar pusat kota, karena saya sendiri telah terjebak oleh kemalasan untuk tidak berpegal-pegal kaki dan nafas yang tersengal juga keringat yang berlebihan di tubuh saya. Tapi sungguh, efek samping daripada hal-hal itu menjadikan kita manusia yang menuju kesempurnaan. Kita menjadi memiliki cita rasa tersendiri dalam menmandang segala persoalan dan kita juga memiliki waktu untuk berpikir sambil berjalan, tanpa harus ada yang tertabrak oleh kendaraan kita itu.

Pablo Neruda dalam pidatonya ketika meraih nobel pada tahun 1971, mengatakan bahwa, puisi harus bisa mendidik masyarakatnya. Mungkin inilah yang membuat rakyat Chile tetap intens pada karya-karya seni, Pablo Neruda pun, menjadi abadi dan tetap bersemayam di hati penduduk Chile itu. di Indonesia, hanya sekelumit saja orang-orang yang mengerti dan mau mengapresiasikan sastra serta mencintai karya-karya sastra, itu pun (mungkin) hanya bagi orang-orang yang tak lagi memikirkan makan dan minum. sedangkan orang-orang yang demikian di Indonesia masih belum banyak, tak semuanya suka sastra. ada budaya pop yang membudaya dan gemerlap malam yang menghantarkan mereka kepada gaya metropolis yang tak seimbang dengan jiwa-jiwanya. Bergaya nyentrik dengan dandanan hippies. Sementara, orang-orang menengah ke bawah tak cukup waktu untuk memikirkan karya sastra.

Saya juga teringat dengan ungkapan Ari Pahala Hutabarat ketika berbincang-bincang soal puisi, bahwa seorang penyair harus memiliki daya pikir yang mendalam terhadap obyek karyanya. Misalnya ketika kita membicarakan rindu, kita harus filosofis dan dalam ketika merenungkannya dan mengejawantahkannya ke dalam karya. Mengapa demikian? Karena para sastrawan minimal dia adalah seorang yang mempunyai sesutau yang lebih daripada keumuman masyarakat, sebab ia mesti menjadi panutan dalam masyarakatnya. Persis seperti Neruda yang mengungkapkan bahwa karya harus mendidik dan seorang pendidik yang baik, tentu harus lebih pintar daripada murid-muridnya, harus lebih terluka dari murid-muridnya, harus lebih tau dan mempunyai pandangan estetika yang lebih dari murid-muridnya dan harus lebih baik daripada murid-muridnya.

Mungkin banyak usaha yang telah dilakukan untuk mempopulerkan sastra, tapi usaha yang dilakukan ternyata belum juga cukup. Karena sastra belum dapat menggantikan sesuatu yang dapat membuat masyarakat menjadi iklas untuk mengapresiasi karya sastra baik itu puisi, cerpen, novel, fiksi mikro dll. Tayangan sinetron di televisi ternyata telah menggantikan novel yang penuh huruf dan imajinasi tergantikan dengan artis-artis tampan dan cantik indo dan ceritanya yang klise. Benarkah para pekerja seni telah menanamkan di dalam dirinya, hendak mengisi khasanah kejiwaan masyarakat?

Sesungguhnya hakikat sastra adalah mengisi sisi kejiwaan bagi manusia. Karena sastra berisikan pesan-pesan kemanusiaan, watak, kasih sayang, persahabatan dan yang mengandung unsur-unsur sosial. Seperti penyair Pablo Neruda yang telah menyatukan masyarakat Cile dengan karya-karyanya yang dengan kekuatan elemental berhasil menghidupkan impian dan nasib benua itu. dalam pidatonya ketika mendapat Nobel pada tahun 1971, ia menceritakan perjuangan rakyat Cile yang penuh dengan penderitaan. Dan diakhir pidatonya, ia mengutip kata-kata Rimbaud, seorang ahli nujum, bahwa “hanya dengan kesabaran membara kita akan menaklukan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia. Dan ia menyimpulkan, “dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.”

Pada zaman yang serba cepat ini, tidak mudah memahami sastra secara tekstual. Karena kita jarang sekali bergaul dengan citraan-citraan yang terdapat di dalam sastra. Kota semakin menggiring kita untuk menjadi konsumtif yang berlebihan. Sehingga tak ada daya hidup yang manusiawi. Semua hidup dirancang untuk menghasilkan uang dan uang yang menyebabkan kita merasa hidup kalau ada uang. Dan yang lebih parah lagi apabila kita menghasilkan uang dengan menggunakan segala cara. Tapi disamping itu, daya produktifitas kita semakin menurun. Uang lebih kepada jasmani, sedangkan sastra adalah rohani. Mungkin itulah kesimpulan yang saya dapatkan dari tulisan saya ini.

Bandarlampung, 30 Oktober 2008.

Gambar diambil dari situs: blogotomotif.com



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...