Rabu, 04 November 2009

Sajak Kompas Minggu, 6 September 2009

Agit Yogi Subandi

Menunggu




menunggumu, kudengar keluh bangku taman
di dekat kembang pagar perdu;
suaranya, retak daun musim gugur
dan angin yang menumbur daun retak itu.

menunggumu, dinda,
mawar menggugurkan kelopaknya.
kumbang-kumbang menghisap duri-duri;
madu, merah kirmizi.

menunggumu, aku paham percakapan serangga
yang sembunyi di balik semak malam hari.
sepanjang malam, kudengar kisah gadisnya
yang tersesat di belantara pepohonan setiap hari.

menunggumu, adinda,
aku dibenci arloji
sebab ruangnya kujarah
dan tubuhnya padat caci maki.

menunggumu, seperti menghadapi malam
meruang dengan sebatang lilin putih mengelam.
dan masjid hanya takbir, suaranya adalah suaraku;
yang direkam angin dari kamarku.

dan dalam penantianku, adinda, aku telah berbicara
kepada ratusan wali-wali pilihanmu.
langit menyempit di mataku,
kau melebar di dadaku.

(2009)



Musim Gugur


musim gugur,
ada di dada dan jemarimu:

dadamu, adalah batang yang tak lagi
mengalirkan resapan air kepadaku.

jemarimu, adalah reranting yang melepas
pipih tubuhku yang hijau;

seperti pertama kali aku tumbuh
di tanganmu

(2009)

Minggu, 25 Oktober 2009

Renungan Labirin

Labirin




aku di dalam labirin yang berdinding tanaman rambat.
gemanya bagai di dalam balairung sepi. tak ada papan
penunjuk arah. dibiarkannya aku melarat menempuh
tikungan-tikungan curam dan jalan buntu tanpa bekal kompas atau
peta buta sekalipun. tak ada yang bisa dipahami dari perjalanan ini,
sebab aku tak bisa kembali ke jalan yang telah dilalui.
setiap ingin kembali, aku selalu berada di tempat lain.

setiap daun memiliki nama. salah satunya adalah namamu.
dan setiap daun berkaitan dengan daun-daun lain. mereka bersekongkol,
pura-pura acuh. dirambatkanlah batang dan daunnya
yang bernama itu ke kaki, tangan, dan lehermu. jangan katakan tidak
kepada mereka, cukup lepaskan rambatannya, maka mereka akan mengerti:
kau tak mau terikat olehnya. kau akan sering menyesuaikan tubuhmu
kepada salah satu atau beberapa dari daun itu: mengecil dan masuk
ke dalamnya. tapi jangan berlebihan menanggapi,
sebab daun itu, sesungguhnya seperti dirimu juga:
di dalam labirin dan menemui daun-daun pula.

pada saat kau menemuinya, ia adalah daun, tapi pada saat itu pula
ketika ia menemuimu, kau sebagai daun. kalian tidak saling
mengetahui, sebab kau hanya menebak dari apa yang terlihat;
daun-daun yang menunas, dinding retak, kegelapan,
bahkan daun-daun yang terlepas dari batangnya—memasuki sebuah
pintu yang tak pernah dikunci oleh siapapun dan mengakhiri
petualanganmu—semuanya seolah telah diketahui dan membuatnya
menjadi pasti. kau mulai mengasah rasa takutmu. tanpa kau ketahui,
dan betapa mengagetkan, semua peristiwa, berjalinan denganmu.

daun-daun itulah yang perlahan menghantar dan
memperkenalkanmu kepada daun-daun lain. kau tinggal memilih,
masuk ke dalam atau berdiri memandang kemudian pergi,
memastikan yang belum pasti di bawah terik matahari dan memastikan
bentuk benda-benda di bawah redup cahaya bulan juga bintang-bintang.
dan kejujuran, adalah milik kematian. batu-batu, benda-benda
di sekelilingmu, bahkan tubuhmu berpijaran dan pijaran itu
kemudian meninggalkan semuanya menuju angkasa, menembus atmosfer
bagai bola-bola cahaya yang kemudian pecah menjadi jutaan keping.
di dalam labirin ini, aku seperti pencari. pencari pintu keluarku sendiri.
tapi sesungguhnya aku mencarikan pintu keluarmu, dan
kau mencarikan pintu keluarku.

suatu ketika, kususuri pasir-pasir coklat muda yang ditumbuhi rumput.
kudegar rintihan dari balik puing. ada wewangian yang perlahan
menghisap tubuhku ke dalam pusaran di daun-daun
yang memiliki ruang lain lagi, labirin yang lain:
cahaya kelam, dinding yang lebih puing, tumbuhan rambat
yang lebih rambat, bahkan rintih yang lebih rintih lagi, ada di dalamnya.
dan tumbuhan itu melenguh bagai nafas harimau terluka.
aku mulai merapuh dalam cahaya itu. berahi-berahi mulai menyusun
dirinya di dadaku. menarik lagi musim yang telah menghilang
di bilik jantungku, hingga mengeram, kemudian memecutkan tangannnya
yang seperti ranting kering dan melukai lagi dinding di bilik jantungku.

rongga dadaku digenangi darah yang menghitam.
kebencian-kebencian mengkristal di dalamnya, berhamburan,
berterbangan, dan masuk lagi ke dalam daging, resap
ke dalam pembuluh darah seraya mengintai lubang-lubang
di tubuhku. mereka berpesta dalam kejemuan, dalam dahaga
yang mendorong perkiraan dan dugaanku terhadap ruang.
kemudian kristal-kristal itu meleleh, keluar lewat lubang hidungku.
seketika semuanya menjadi bersih. tak bersudut
dengan sebentang kabut di kejauhan dan dibayang-banyangi
pohon-pohon hitam samar.

aku seperti tengah kembali pada permulaan:
bukan menjadi anak kecil, tapi aku kembali bisa melihat; pohon-pohon
melambai-lambai, rumput, langit biru, serangga-serangga berterbangan
mengitari setiap tumbuhan; seperti di dalam akuarium jernih
yang ditunggangi tebaran dari segaris cahaya lampu neon warna-warni.
ketika gelap, hanya ada cahaya samar di belakang kabut itu.
pohon-pohon bersiluet, dan cahaya kunang-kunang bertebaran bagai
punggung langit malam. saat aku melangkah, semuanya
menjadi putih. seputih pijaran pada benda-benda dan tubuhmu yang kemudian
meluncur dan lesap ke langit kemudian pecah. dinding-dinding
muncul inci demi inci.

kini, aku berada di labirin yang lain lagi. jalan samar: seperti bayang-bayang.
tapi adakah yang kokoh bertahan pada jalannya sendiri.
sekalipun jalan yang ditempuhnya tampak lurus atau basah
meski daun-daun tanaman itu, jatuh di jalan yang sedang di tempuh.

(Tanjungkarang, Juli, 2009)

Jumat, 15 Mei 2009

Resensi Film " GONE

Gone (The Trip of A Lifetime)

Oleh: Agit Yogi Subandi




Naskah yang ditulis oleh James Watkins dan dibesut oleh sutradara Ringan Ledwidge dan diproduksi dengan bendera Universal Pictures dan Working Title Film dan berkerja sama dengan Film Finance Corporation Australia dan Studiocanal A WT dan WBP (Warner Bros Production) ini, bercerita mengenai perjalanan sepasang kekasih Alex (Shaun Evans) dan Sophie (Amelia Warner) di Australia dan menempuh perjalanan wisata bersama seorang yang sangat asing.

Cerita ini bermula dari kedatangan Alex di Sidney dari Amerika untuk menemui Sophie di Byron. Dalam perjalan menuju kota itulah Alex bertemu dengan Taylor (Scot Mechlowicz) yang akhirnya mengantarkan Alex ke Byron dengan mobil pribadinya.

Film ini beralur linear dengan tempo yang sangat terjaga. Titik tolak cerita dalam film ini sangat jelas yang bermula dari pemotretan dengan kamera Polaroid oleh Taylor ketika Alex tidur dengan gadis kenalan Taylor. Di sinilah cerita baru dimulai, tapi dengan tingkatan emosi berkala dan semakin lama-semakin meningkat. ditambah pula pengambilan angel gambar yang tepat, sehingga fokus-fokus dalam persoalannya dapat terlihat dan dimengerti. Warna dalam film ini juga menyerap energi penonton untuk turut masuk ke dalamnya. Musiknya juga membantu dalam mengilustrasikan adegan-adegan, justru sangat membantu, sebab dalam beberapa akting yang dimainkan kurang mendukung ketajaman beberapa adegan. Tapi secara keseluruhan film ini saya acungkan kedua jempol saya. Inilah kerja sama tim, menutupi segala kekurangan dan menjadikannya lebih baik, bukan malah melemahkan satu sama lainnya.

Misalnya pada adegan ketika di sebuah hutan, mereka berkemah dan menurut saya di Australia, setiap pasangan berhubungan sex dengan bebas, tetapi mengapa Taylor begitu marah ketika melihat mereka berdua sedang bermain. Atas dasar apakah? Kalau memang benar dasarnya adalah cemburu, kurang tepat apabila Taylor marah kepada Alex. Kemudian saya mencoba memahami sikap Taylor tersebut dengan memandang itu sebagai sikap minta dihargai, tetapi mengapa ia lebih memilih untuk mengantarkan sepasang kekasih itu yang jelas akan melakukan hubungan seperti itu di dalam perjalanan. Tapi untunglah film ini diselamatkan oleh cerita yang bagus dan tempo yang terjaga. Kecerdikan sutradara sangat diperlukan.

Inti cerita film ini adalah mengedepankan kepercayaan dan mencoba menggugat arti dari sebuah pertemanan dan maksud-maksud di dalamnya. Tapi terlalu sederhana apabila hanya itu yang ditampilkan. Ternyata tidak, film ini memberi titik tekan kepada sebuah hubungan yang mengambil sudut pandang kekasih yang telah lama tak bertemu serta betapa setiap ruang harus tetap memiliki batas yang sesuai. Apalagi Taylor di situ sangat penuh dengan teka-teki dan sangat membingungkan pasangan tersebut. tapi untunglah Sophie tetap mencintai Alex, meski pada akhirnya, Taylor membunuh Alex di sebuah penginapan dan menyimpan mayatnya di dalam mobil. Kemudian Sophie limbung memikirkan Alex yang tiba-tiba menghilang. Dan sebuah SMS masuk di telepon genggam Sophie atas nama Alex yang tertulis “GONE”. Beberapa kali Sophie menelepon tapi tak diangkat hingga akhirnya Sophie memutuskan untuk pergi ke Sydney.

Akhirnya mereka berdua pergi dari penginapan tersebut dan Taylor sengaja berhenti di sebuah tempat yang seperti gurun untuk beristirahat dan Sophie menyetujuinya. Berkemahlah mereka dan melakukan hubungan badan yang tak seharusnya dilakukan Sophie. Inilah adegan yang baik menurut saya. Bukan karena appeal yang dilakukan Sophie, tetapi di dalam permainan itu bukan orientasi perselingkuhan yang menjadi fokus, tetapi lebih kepada ketegangan antara Sophie yang takut kepada Taylor. Ketakutan itu lebih dipertajam lagi ketika Sophie hendak mengirim SMS kepada Alex untuk menghilangkan rasa bersalahnya karena telah melakukan appeal, tetapi SMS itu sampai di telepon genggam yang berada di celana Taylor. Munculah kecurigaan dan ketakutan yang amat sangat di akting Sophie. Dan ia lantas melarikan diri dengan membawa mobil Taylor. Tetapi Taylor tidak membiarkannya dan adegan tersebut menjadi sangat tegang. Inilah puncak adegan yang ditunjukan oleh mayat Alex yang terjatuh dari mobil karena Sophie tidak bisa membawa mobil namun ia berusaha untuk kabur.

Taylor terus membuntutinya dengan masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang yang terbuka tadi. Untunglah ada pembatas besi antara tempat duduk sopir dan kursi belakang. Sehingga Taylor bersusah payah untuk masuk.

Di tengah jalan, Sophie berusaha menjatuhkannya dan akhirnya berhasil. Adegan ini sungguh mengerikan. Seberapa mengerikankah adegan ini, saya rasa anda harus menontonnya. Inilah sebuah film yang mengandung sikap dan menambah khasanah kejiwaan manusia. Film ini sangat memanusiakan manusia.

-oO0Oo-

Minggu, 25 Januari 2009

di akhir Januari

Cangkul tumpul

Aku di dalam cangkul yang tumpul. Ia tak bisa lagi menggali tanah hingga dalam. Orang-orang yang mencangkul, akan mengencangkan otot tangannya. Tanah-tanah terasa keras di mata cangkul itu. Kami tak bisa mengasahnya. Kami tak bisa menghiasnya. Kami tak bisa membuatnya menjadi cangkul yang bisa digunakan untuk berkebun. Di dalam cangkul itu, kami beranak pinak. Kami menulis sajak pesimis. Kami makan dan minum dari tangis kawan kami sendiri. Mungkinkah cangkul dan kami akan tetap berarti? Sementara kawan-kawanku semakin pandai menyulam asmara purba: Saling menggoda, saling bertanding luka.

Kepala-kepala kami menjadi batu. Batu yang mudah pecah. Kami beradu kepala hingga remuk. Siapa yang bertahan? Kami menodai diri kami sendiri dengan lumpur-lumpur sawah. Kami membunuh kawan kami dengan prilaku dan kata. Pisau adalah alat pencankok kebencian di tubuh kami. Kami seret mayat-mayat itu ke lubang-lubang kepiting dan tong-tong sampah. Kami diam. Kami mensucikan diri dengan menggendong bayi-bayi dan membuka perayaan dengan pidato. Burung-burung gagak berterbangan sambil tersenyum senang sekaligus bengis. Aku diam. Kami menjadi diam. Percakapan justru membungkam. Otak kami mati. Tangan kami hanya menjelajah ruang rahasia. Cangkul tumpul. Tanah mandul.

(Tanjung Karang, 2009)


Minggu, 18 Januari 2009

Sajakku Januari ini


Gadis kecil di sudut ranjang


dengan melihat langit kamar, ia peluk boneka seorang putri
sesekali ia pandangi putri kemudian melihat langit kamar lagi.
ia sedang memajang gambar istana di plafonya
dan perlahan-lahan ia masuk ke istana di langit kamarnya.

sebuah pesta dengan altar yang ditunggui pangeran
pangeran itu memandang dan membungkuk kepadanya.
gadis kecil itu berlari kecil meraih tangan
yang terdapat cincin keagungan silsilah istana.

dalam larinya itu, ada yang datang dan ada yang pergi.
dalam larinya itu, ada yang menoleh dan ada yang tak menoleh.
lalu gadis itu berhenti. tubuh orang-orang terkunci.
hanya mata yang bergerak dan mengarah.

gadis kecil itu tak mengenal dirinya,
kemudian bibirnya mengucap: aku di mana?
di mana ayah-bundaku?
mengapa sebelumnya, ia tak memberitahuku?

suara boneka itu menarik gadis kecil dari langit-langit kamar.
gadis itu jatuh dipelukan boneka.
kemudian boneka itu menatap langit-langit yang samar,
sambil memeluk gadis itu dan membayangkan dirinya:

berjalan dan menggendong tas sekolah.

(Kedaton, 2009)

Kamis, 15 Januari 2009

Common Thing

Meja Tulis

tubuhnya: sebentang jalan tanpa ruko-ruko
dengan sejumlah kios yang menantang setiap
pejalan untuk menghakimi dirinya.
tak ada deretan lampu yang menyembah
setiap yang lewat di bentangan itu. hanya sebuah lampu
yang tegun menanggapi setiap yang melintas dan berlalu.
peristiwa: orang-orang yang berdiri di balik kabut,
tersorot bulan.

ada tiang lampu dan deretan cerita pendusta
yang menarik-narik kepingan di tubuhmu,
serta lelaki yang mabuk akan gadis dengan jaket beludru,
yang ia ingat punggung dan pinggulnya,
ia tak ingin mengingat namanya, apatah lagi alamat rumah.
ia hanya ingin melukai dirinya dengan ingatan
yang mengkilat seperti pedang-pedang para samurai.
hingga tercecer darah—menetes-netes,
ada serpihan kulit yang membusuk—mengering,
dan rahasia yang tersimpan dan tak dituliskan

ada aku, tersesat!
sambil menuliskan yang berlalu.

(2008)




Nyanyian Sepasang Sepatu

kerapkali kau meletakkanku di sudut ruang
yang menggema dan tak terjangkau. ruang
dengan siku yang tajam, kosong tanpa cahaya.
aku bernyanyi. nyanyianku adalah cemas
dahan kepada daun-daunnya.
dalam kesepianmu, kau akan pergi meninggalkan
pintumu. pintu kamar yang sinis. pintu itu
menatapmu berulang-ulang.
kau pun begitu. hingga ia berkata:
“sudah tiga hari, mengapa tak menyentuhku?”
dan kau akan tak sengaja mengajakku meninggalkan
ruangku dan ruangmu yang tanpa cahaya itu.
itulah saat-saat wajahku merekahkan bibirku.
seperti ranting yang menjatuhkan
daun-daun di musim gugur
dan menunaskannya kembali
di musim semi.
dengarlah nyanyianku di kakimu: suara
perempuan kecil yang riang di taman.
tapakku adalah lapis kedua dari jalan yang
membentang. tubuhku kabin sekaligus
atap bagi kakimu. aku selalu siap ditinggalkan
juga siap untuk kau ajak jalan-jalan.

(Januari, 2009)